Kalasuara - Rupiah ditutup menguat 65 poin atau 0,36 persen ke Rp17.921 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026), dari posisi sebelumnya Rp17.986. Di Asia, penguatan rupiah ini menjadi yang terbesar di antara mata uang utama Asia pada hari yang sama. Rupiah mencatat penguatan yakni 0,36%, disusul peso Filipina yang menguat 0,06%, yen Jepang menguat 0,06%, rupee India menguat 0,03% dan dolar Singapura yang menguat 0,008% terhadap dolar AS. Sementara Dolar Taiwan mencatat pelemahan terdalam yakni 0,22%, ringgit Malaysia dan baht Thailand yang melemah akibat tensi geopolitik Timur Tengah yang belum mereda,
Dana Asing Balik Arah ke SBN dan Saham
Penopang utama datang dari dalam negeri. Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia untuk kuartal II 2026 mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) naik ke 12,97 persen, dari 10,11 persen pada kuartal sebelumnya. Utilisasi kapasitas produksi ikut naik ke 73,80 persen dari 73,33 persen, dan Purchasing Managers Index versi BI berada di zona ekspansif pada 51,43. Sektor pertanian-kehutanan-perikanan, konstruksi, dan pertambangan jadi pendorong utama, sementara sektor akomodasi-makanan-minuman terbantu momentum libur sekolah dan hari besar keagamaan.
Data itu berbarengan dengan kembalinya minat investor asing pada instrumen rupiah. Di pasar saham, investor asing mencatat net buy Rp39,90 miliar pada sesi I Jumat, dengan pembelian terkonsentrasi di tiga saham bank besar: BBCA, BBRI, dan BMRI. Sepanjang kuartal II 2026, arus modal asing ke Indonesia mencapai US$7,98 miliar atau sekitar Rp143,34 triliun. Jika dirinci dari tiga instrumen yang tercatat, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi kanal terbesar dengan estimasi penyerapan sekitar US$8,48 miliar, cukup untuk menutup net outflow US$2,3 miliar dari pasar saham sekaligus menambah US$1,78 miliar yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). Dengan kata lain, selama tiga bulan terakhir investor asing lebih memilih instrumen bank sentral dan surat utang berimbal hasil tetap ketimbang ekuitas, pola yang tetap terlihat pada sesi Jumat lewat gabungan pembelian saham perbankan dan minat pada instrumen bank sentral.
Mengapa Data SKDU BI Berpengaruh ke Kurs Rupiah?
SBT yang naik ke 12,97 persen menunjukkan pelaku usaha domestik menilai kondisi bisnis membaik, bukan sekadar rebound musiman. Pasar valuta membaca kenaikan utilisasi kapasitas produksi dan PMI ekspansif sebagai sinyal fundamental domestik yang menguat, sehingga aksi beli rupiah pada Jumat tidak berhenti pada ambil untung jangka pendek. Kenaikan SBT dari 10,11 persen ke 12,97 persen turut disebut sebagai penopang penguatan rupiah oleh analis pasar uang.
Ibrahim Assuaibi, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, menjelaskan pergerakan kurs pada sesi itu:
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 65 poin sebelumnya sempat menguat 85 poin dilevel Rp 17.921 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.986"
— Ibrahim Assuaibi
Rupiah dan Won Unggul, Ringgit-Baht Tertekan
Di kawasan Asia, penguatan rupiah 0,36 persen menjadi yang paling tinggi hari itu, disusul won Korea yang turut menguat sekitar 0,15-0,17 persen. Peso Filipina naik tipis 0,06 persen, sementara yen Jepang dan rupee India masing-masing hanya menguat 0,01 persen. Di sisi lain, ringgit Malaysia melemah 0,23 persen dan baht Thailand 0,09 persen. Ringgit dan baht tertekan permintaan aset aman akibat eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat, kondisi yang membuat penguatan rupiah dan won hari itu makin menonjol dibanding mata uang kawasan lain yang tertekan.
Konflik Iran-Amerika Serikat kini memasuki bulan kelima. Serangan AS ke sasaran di Iran dibalas rudal dan drone Iran ke pangkalan militer AS di negara tetangga, mendorong harga minyak dunia naik dan turut menekan sebagian mata uang Asia. Ibrahim Assuaibi menyoroti dampaknya terhadap ekspektasi inflasi:
"Permusuhan yang diperbarui telah memperpanjang konflik Timur Tengah hingga bulan kelima, menjaga harga minyak mentah tetap tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat memicu kembali inflasi"
— Ibrahim Assuaibi
Ketegangan di Selat Hormuz sudah berulang kali menekan pasokan dan pengiriman minyak sepanjang tahun ini, seperti terlihat saat kapal tanker Gamsunoro lolos dari Hormuz sementara Pertamina Pride masih menunggu giliran. Di sisi lain, harga BBM dalam negeri pada Juni 2026 justru turun meski tekanan dari Hormuz mengerek harga minyak dunia, menunjukkan jarak antara gejolak pasar global dan penetapan harga domestik.
Konteks: Dari Rp18.070 ke Bawah Rp18.000
Rupiah sempat berada dalam tekanan sepanjang pertengahan Juli 2026, bahkan dibuka melemah tipis ke kisaran Rp18.070 pada Kamis (16/7), sebelum berbalik menguat tiga hari beruntun hingga menembus di bawah Rp18.000 per dolar AS. Di sisi kebijakan, Bank Indonesia sebelumnya memperketat batas pembelian dolar AS tanpa underlying menjadi US$10.000 per bulan per pelaku, salah satu instrumen menjaga stabilitas rupiah dari sisi permintaan domestik.
Yang Perlu Dipantau
Analis pasar uang memproyeksikan rupiah pekan depan bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. Arahnya akan ditentukan tiga hal: kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan harga minyak dunia di tengah konflik Iran-Amerika Serikat yang belum menunjukkan tanda mereda, dan konsistensi arus dana asing ke SBN, SRBI, serta saham perbankan yang masih berfluktuasi dari hari ke hari sepanjang Juli 2026.




Komentar