Supertanker Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping (PIS) melintas Selat Hormuz pada Rabu, 24 Juni 2026, dan dinyatakan aman setelah 16 jam perjalanan dari Teluk Persia dengan kecepatan 7,5 knot. Kapal itu membawa kargo konsumen pihak ketiga. Yang belum bergerak adalah VLCC Pertamina Pride: mengangkut 249.821 metrik ton minyak mentah untuk kilang Cilacap, dengan jadwal kedatangan yang sudah lewat 84 hari.
Keduanya terjebak di Teluk Persia sejak awal Maret 2026 ketika eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran membuat operator kapal, perusahaan asuransi, dan otoritas negara bendera masing-masing menghitung ulang risiko.
Mengapa Gamsunoro lebih dulu melintas?
Gamsunoro memperoleh izin transit lebih dahulu karena penilaian risikonya selesai lebih awal. Sebelum diberangkatkan, PIS memenuhi puluhan persyaratan yang mencakup asuransi, aspek teknis dan operasional, keamanan, hingga kesiapan kru. Proses itu memakan waktu sekitar satu bulan dan melibatkan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta KBRI di Teheran.
"Kami mencatat puluhan persyaratan yang harus dipenuhi kapal, mulai dari asuransi, aspek teknis dan operasional, keamanan, hingga kesiapan kru," kata Vega Pita, Pelaksana Tugas Corporate Secretary PIS. Ia menambahkan bahwa pemilihan waktu dan rute sudah melalui pembahasan dan penilaian risiko yang sangat ketat.
Gamsunoro berangkat pukul 01.06 waktu Dubai, mencapai mulut selat sekitar pukul 13.00 waktu setempat, lalu dinyatakan aman empat jam berselang.
249.821 metrik ton yang terapung
Pertamina Pride adalah VLCC berbendera Singapura, dibangun 2021, dengan kapasitas sekitar dua juta barel. Kapal ini mengangkut 249.821 metrik ton minyak mentah dan kondensat, setara 1,86 hingga 1,90 juta barel, untuk kebutuhan pengolahan di kilang Cilacap. Jadwal kedatangannya: 2 April 2026.
Per akhir Juni, pasokan itu sudah lebih dari 80 hari melampaui jadwal, masih terapung di Teluk Persia. PIS menegaskan Pride tidak akan diperintahkan melintas sebelum penilaian risiko menyeluruh selesai dan ada rekomendasi resmi dari otoritas terkait.
Di sinilah perbedaan posisi dua kapal itu terasa: yang membawa pasokan strategis domestik, Pertamina Pride, justru prosesnya belum tuntas, sementara kapal dengan kargo komersial pihak ketiga lebih dulu mendapat lampu hijau. Urutannya bukan soal hierarki kepentingan, melainkan soal kapan masing-masing proses selesai.
Diplomasi RI-Iran dan hambatan berlapis
Jalur diplomatik sudah berjalan sejak akhir April 2026. Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno menyatakan pemerintah terus berkomunikasi dengan otoritas Iran. "We are in contact with government authorities, and discussions with the Iranian government are continuing," ujarnya. Ia menekankan bahwa proses ini menuntut lebih dari sekadar jaminan satu pihak: "There are many elements that must be aligned. So it is not just about guarantees from state authorities; everything must be aligned."
Hambatan praktis cukup berlapis. Perusahaan asuransi maritim enggan menanggung pelayaran di kawasan berisiko tinggi, kapten kapal memiliki kewenangan penilaian keamanan tersendiri, dan ada friksi birokrasi dari sisi Iran yang turut memperlambat proses.
Satu titik sempit, satu kilang menunggu
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi pintu keluar utama ekspor minyak negara-negara Teluk. Ketika ketegangan AS-Iran membayangi kawasan, ketidakpastian status selat langsung memengaruhi keputusan operator, asuransi, dan otoritas negara bendera.
Bagi Indonesia, dua tanker PIS ini adalah wujud paling konkret dari dampak krisis itu. Pergerakan harga minyak di pasar global adalah dampak tidak langsung. Pertamina Pride, dengan 1,9 juta barel milik Pertamina yang terapung hampir tiga bulan di luar jadwal, adalah dampak yang langsung menyentuh aset dan rencana pengolahan kilang. Apakah keterlambatan ini mengganggu jadwal produksi di Cilacap atau memaksa pencarian pasokan pengganti, belum ada konfirmasi dari Pertamina maupun Kementerian ESDM.
Proses yang berhasil memuluskan transit Gamsunoro kini perlu diulang untuk Pertamina Pride: penilaian risiko, koordinasi asuransi, persetujuan kru, dan komunikasi diplomatik yang semua elemennya harus selesai dalam waktu bersamaan.



