Di PENAS XVII Gorontalo, Rabu 24 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto menetapkan daging sapi sebagai komoditas swasembada berikutnya di hadapan lebih dari 100 ribu petani dan nelayan. Tenggat yang ia sebut sebulan sebelumnya di Kebumen: "4 tahun lagi, 5 tahun lagi." Neraca daging pemerintah untuk 2026 mencatat produksi sapi-kerbau domestik 421.200 ton dari kebutuhan konsumsi nasional 794.300 ton. Selisihnya 373.100 ton, hampir 47 persen kebutuhan yang belum bisa dipenuhi dari dalam negeri.
Swasembada daging adalah kondisi produksi ternak domestik mencukupi seluruh kebutuhan konsumsi nasional tanpa bergantung impor. Dengan angka 53 persen, Indonesia masih jauh dari titik itu. Untuk menutup kekurangan tahun ini, pemerintah membuka kuota impor 700.000 ekor sapi bakalan, setara sekitar 189.700 ton daging, ditambah 30.000 ton daging beku. Total ketersediaan nasional 2026 mencapai 949.700 ton, melampaui kebutuhan konsumsi, tapi sebagian besar disangga impor.
Prabowo pertama kali menyebut daging sebagai target berikutnya pada 23 Mei 2026 di Kebumen, setelah mengklaim beras dan jagung sudah mandiri. "Daging kita masih belum, ini sedang kita kerjakan, mungkin kita 4 tahun lagi, 5 tahun lagi kita swasembada daging," katanya. Di Gorontalo, ia memperluas janjinya menjadi komitmen permanen: "Saya yakin, swasembada pangan Indonesia tidak hanya untuk satu tahun. Untuk seterusnya, Indonesia akan swasembada pangan."
Mengapa daging sapi jadi komoditas paling sulit?
Karena produksi sapi dikontrol siklus biologis yang tidak bisa dipercepat oleh anggaran. Sapi bunting sekitar sembilan bulan, lalu butuh lebih dari dua tahun lagi sebelum layak potong. Kebijakan pembiakan yang dimulai hari ini baru menghasilkan tambahan pasokan signifikan pada 2028-2029. Menggandakan produksi dari 421 ribu ton ke 750-800 ribu ton yang dibutuhkan untuk mencapai kemandirian adalah pekerjaan biologis.
Prabowo sendiri menyinggung logika ini di Gorontalo saat bicara soal kesabaran bertani: "Tanam beras, tanam padi, tiga bulan baru ada hasil. Tanam kelapa sawit lima tahun baru ada hasil. Tanam singkong sepuluh bulan baru ada hasil." Sapi tidak ia sebut, tapi siklus produksinya lebih panjang dari kelapa sawit: dari keputusan pembiakan hingga daging di pasaran, waktunya hampir tiga tahun.
Target yang sudah pernah gagal
Target swasembada daging sapi dengan tenggat 2026 bukan hal baru. Pemerintahan sebelumnya sudah menetapkan target serupa sejak 2019 untuk dicapai tahun ini, dan realisasinya tidak terwujud. Impor daging sapi yang pada 2015 masih di kisaran 50 ribu ton kini mencapai ratusan ribu ton per tahun. Tren satu dekade bergerak ke ketergantungan impor yang makin dalam.
Angka positif yang dilaporkan Kementan di Gorontalo perlu dibaca sebagai gambaran agregat, bukan spesifik daging sapi. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 127, tertinggi dalam 34 tahun, dan pertumbuhan ekonomi pertanian 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun. Kedua indikator itu menggabungkan seluruh subsektor pertanian; daging sapi secara spesifik tetap menjadi titik lemah yang belum membaik dalam angka neraca.
Strategi yang berjalan dan risikonya
Pemerintah menjalankan dua lapis pendekatan. Jangka pendek: mengisi celah lewat impor bersyarat. Kuota 700.000 ekor sapi bakalan 2026 dialokasikan untuk swasta, diiringi kewajiban bermitra dengan peternak lokal sebagai mekanisme transfer kapasitas. Jangka panjang: peternakan terintegrasi di 13 provinsi luar Jawa dan dua fasilitas sapi perah berpendanaan Danantara dengan estimasi investasi sekitar Rp2,4 triliun per paket menurut laporan detikFinance. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut swasembada telur dan ayam, serta sapi sebagai program prioritas Kementan pada 2026.
Taruhan di balik target ini menyentuh tiga urusan sekaligus: harga daging di pasar yang langsung menyentuh belanja rumah tangga, neraca dagang yang ingin ditekan pemerintah, dan kebutuhan protein untuk program Makan Bergizi Gratis yang masih dalam proses penataan ulang. Pengembangan peternakan di luar Jawa juga berhadapan dengan tekanan iklim: El Niño 2026 telah menekan ketersediaan air di ribuan jiwa di berbagai daerah, dan pakan serta air minum ternak adalah kerentanan pertama ketika kekeringan tiba. Jika target 4-5 tahun meleset seperti target 2026 yang dipatok pada 2019, tekanannya akan terasa di ketiga lini sekaligus.
Tiga indikator paling awal
Progres menuju 2030 bisa dibaca dari tiga angka sebelum hasilnya tampak. Pertama, arah kuota impor sapi bakalan pada 2027-2028: kuota yang turun adalah bukti nyata herd domestik mulai tumbuh; kuota yang stagnan atau naik berarti produksi lokal belum merespons. Kedua, kapan 13 proyek peternakan provinsi mulai beroperasi secara komersial, bukan sekadar groundbreaking. Ketiga, porsi daging domestik dalam pasokan protein MBG: jika sebagian besar masih impor, biaya program ikut terpengaruh fluktuasi kurs.
Pergeseran angka tenggat di pernyataan pejabat pun patut diikuti. Apakah mereka konsisten menyebut "4 tahun", "5 tahun", atau "2030" secara bergantian. Inkonsistensi itu, bila muncul, adalah sinyal awal bahwa target sudah mulai digeser sebelum sempat diukur.



