Harga minyak mentah Brent menutup kuartal II 2026 dengan koreksi sekitar 38 persen, penurunan kuartalan terdalam sejak pandemi Covid-19 menjatuhkan harga 66 persen pada kuartal pertama 2020. Pada penutupan Selasa (30/6) malam waktu New York, Brent untuk kontrak pengiriman Agustus tercatat di 72,92 dollar AS per barel, turun 0,3 persen dari sesi sebelumnya. West Texas Intermediate (WTI) tergerus 1,8 persen ke 69,50 dollar AS per barel. Untuk bulan Juni saja, Brent kehilangan sekitar 21 persen, koreksi bulanan terbesar sejak Maret 2020.

Reli satu semester yang terhapus lebih dalam dari terbentuknya

Sepanjang kuartal I 2026, Brent melonjak sekitar 94 persen karena eskalasi militer di Teluk Persia dan ancaman penutupan Selat Hormuz mengunci pasokan di dalam kawasan. Kuartal II membalik reli itu sepenuhnya, dan harga turun lebih dalam dari besarnya kenaikan itu sendiri.

Pola ini bekerja di kedua arah: pasar menghargai ketakutan, lalu mencabut penghargaan itu begitu ketakutan tak terbukti. Warren Patterson, Kepala Strategi Komoditas ING, menyebut dinamikanya: "Pergerakan harga dalam beberapa pekan terakhir mencerminkan pasar yang memperlakukan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran seolah kesepakatan permanen."

Mengapa harga anjlok secepat ini?

Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang pulih, ditambah keputusan OPEC+ menambah produksi, menggerakkan koreksi ini secara bersamaan.

Selat Hormuz adalah jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Ketika lalu lintas kapal kembali normal, pasokan yang sebelumnya tertahan di Teluk Persia, termasuk tanker-tanker yang sempat terjebak di kawasan itu selama krisis berlangsung, mengalir kembali ke pasar. Giovanni Staunovo dari UBS menggambarkan prosesnya: "Kapal-kapal yang sebelumnya tertahan kini mulai beroperasi seiring meningkatnya lalu lintas pelayaran keluar dari Teluk, sehingga menciptakan tambahan pasokan sementara."

Di Doha, Qatar, pembicaraan antara perwakilan AS dan Iran turut meredam kekhawatiran pasar. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menegaskan bahwa pertemuan itu berlangsung pada tingkat teknis soal keamanan kawasan, bukan perundingan formal menyeluruh. Sinyal diplomatik yang sampai ke pasar lebih optimistis dari substansinya.

Sementara itu, tujuh negara inti OPEC+ menyepakati kenaikan produksi 188.000 barel per hari untuk Juli, kenaikan bulanan keempat beruntun dalam program pembongkaran pemangkasan sukarela. Tekanan pasokan itu menekan premi risiko geopolitik hingga mendekati nol. Patterson menyatakan: "Pada harga mendekati 70 dollar AS per barel, pasar saat ini memiliki premi risiko geopolitik yang mendekati nol."

Morgan Stanley memproyeksikan surplus pasokan global hingga 4,8 juta barel per hari pada 2027, angka yang, bila terwujud, menandai pergeseran dari rezim krisis pasokan ke kelebihan pasokan.

Apa dampaknya bagi APBN 2026?

Minyak yang lebih murah memberikan dua dampak berlawanan pada APBN 2026. Beban subsidi BBM dan LPG menjadi lebih ringan karena impor menjadi lebih murah. Di sisi lain, harga yang lebih rendah memangkas pendapatan negara bukan pajak dari sektor migas.

ICP (Indonesian Crude Price) adalah harga referensi minyak mentah Indonesia yang menjadi dasar perhitungan keduanya. Asumsi ICP dalam APBN 2026 dipatok 70 dollar AS per barel, turun dari 82 dollar AS pada tahun sebelumnya. Selama Januari hingga Mei, rata-rata ICP melonjak ke 91,86 dollar AS per barel akibat krisis Hormuz yang mengerek harga minyak jauh melampaui asumsi APBN. Pada 29 Juni, ICP tercatat di 70,17 dollar AS per barel, nyaris persis di garis asumsi.

Pembalikan ini meringankan salah satu mesin pendorong pembengkakan belanja yang selama lima bulan menekan neraca negara. Tekanan itu sudah tercermin dalam defisit APBN Mei yang melonjak 763 persen dibanding tahun sebelumnya. Seberapa besar kelegaan itu secara keseluruhan tergantung pada angka ICP resmi Juni dan Juli yang masih menunggu publikasi dari Kementerian ESDM.

Tiga variabel yang dipantau: kelanjutan negosiasi AS-Iran setelah pembicaraan teknis di Doha, keputusan OPEC+ awal Juli soal tambahan kuota produksi, dan respons harga BBM nonsubsidi Pertamina terhadap pelemahan harga dunia.