Kalasuara - Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia memberikan pernyataan setelah bahan bakar campuran 50 persen minyak sawit itu mulai dijual di SPBU secara bertahap sejak 1 Juli 2026. Anggia menyatakan bahwa biodiesel B50 aman digunakan di semua jenis kendaraan dan tidak akan merusak mesin.

B50 adalah bahan bakar diesel campuran, separuh solar fosil dan separuh fatty acid methyl ester (FAME) dari minyak sawit. Sejak diluncurkan Presiden Prabowo Subianto awal Juli 2026, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandat biodiesel sawit setinggi itu untuk seluruh sektor transportasi dan energi.

Cakupan peredarannya sendiri belum menyeluruh. Kepala Bakom RI Muhammad Qodari menyatakan pada 13 Juli 2026 bahwa seluruh SPBU nasional baru ditargetkan menjual B50 pada 1 Oktober 2026. Selama masa transisi tiga bulan sejak 1 Juli hingga 30 September 2026, sebagian SPBU masih boleh menyalurkan B40.

Klaim keamanan bersandar pada uji coba hampir dua dekade

Dwi Anggia menegaskan kebijakan B50 tidak lahir mendadak. Program biodiesel nasional dimulai 2008 dengan B2,5, lalu naik bertahap ke B10, B20, B30, B35, dan B40, sebelum sampai ke B50 tahun ini. Setiap kenaikan campuran, menurutnya, didahului pengujian teknis dan evaluasi performa di lapangan.

"B50 bukanlah sebuah kebijakan yang muncul secara tiba-tiba atau merupakan lompatan yang gegabah. Ini adalah buah dari perjalanan panjang hampir dua dekade dalam pengembangan biodiesel nasional," kata Dwi Anggia.

Kali ini pengujian diperluas ke enam sektor: kendaraan bermotor, alat mesin pertanian, alat berat pertambangan, kereta api, transportasi laut, dan pembangkit listrik. Dwi Anggia mengklaim hasilnya melampaui capaian B40. "Kualitas bahan bakar B50 terbukti menunjukkan performa yang semakin baik, bahkan melampaui capaian formula B40 sebelumnya," ujarnya.

Mengapa ESDM yakin B50 tidak merusak mesin?

ESDM mendasarkan klaimnya pada rangkaian uji coba bertahap sejak 2008 di enam sektor pengguna diesel, dari kendaraan pribadi hingga pembangkit listrik, ditambah data performa B50 yang disebut melampaui B40. Pemerintah juga mengakui kekhawatiran publik soal keamanan mesin sudah menjadi perhatian jauh sebelum B50 resmi diluncurkan, dan menjadikannya dasar penyusunan standar mutu.

Ahli USU: keamanan bergantung kondisi tangki dan filter

Penilaian independen dari kalangan akademisi menambah nuansa pada klaim pemerintah. Prof. Dr. Ir. Tulus Burhanuddin Sitorus, dosen Teknik Mesin sekaligus Kepala Program Magister dan Doktor Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, menyebut B50 layak diterapkan asalkan dibarengi kontrol mutu ketat.

"B50 is fit to be implemented, but it must be backed by strict quality control and technical monitoring," kata Prof. Tulus, merujuk pada kebutuhan pengawasan mutu dan teknis yang konsisten di sepanjang rantai distribusi.

Ia menambahkan, risiko kerusakan mesin biasanya berasal dari kondisi tangki yang kotor, filter yang sudah aus, dan perawatan kendaraan yang buruk, faktor yang tersebar tidak merata di jutaan unit kendaraan, alat berat, kapal, dan lokomotif yang kini memakai B50.

Konsumsi naik, penyimpanan lebih rewel

Prof. Tulus mencatat konsumsi bahan bakar B50 naik 1-3 persen dibanding B40, karena nilai kalor biodiesel sedikit lebih rendah daripada solar murni. Biodiesel juga lebih sensitif terhadap air, oksidasi, dan pertumbuhan mikroba saat disimpan dalam jangka panjang, dibanding solar fosil.

Bagi pemilik kendaraan dan operator armada, detail ini berarti kebiasaan lama seperti membiarkan tangki setengah kosong lama atau menunda ganti filter menjadi lebih berisiko di era B50 daripada di era B40 atau solar murni.

Standar mutu berlaku bersamaan dengan peluncuran B50 di SPBU

Kepmen ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 mengacu SNI 7182:2024 dan menetapkan sejumlah parameter mutu B50, termasuk angka setana minimum 51, kandungan sulfur maksimum 10 miligram per kilogram, kandungan metil ester minimum 96,5 persen, dan stabilitas oksidasi minimum 900 menit.

Aturan itu mulai berlaku efektif 1 Juli 2026, hari yang sama B50 mulai dijual di SPBU. Urutannya berarti standar mutu resmi sudah mengikat sejak hari pertama peredaran B50, dan klaim keamanan dari Dwi Anggia baru menyusul dua pekan setelah standar itu berlaku efektif.

Taruhan devisa Rp170 triliun

Pemerintah memproyeksikan mandat B50 menghemat devisa hingga Rp170 triliun per tahun, dengan syarat pasokan 19 juta kiloliter FAME terpenuhi tanpa mengerek harga minyak goreng di pasar domestik. Proyeksi ini menjadi argumen ekonomi utama di balik keputusan menaikkan campuran sawit ke level tertinggi di dunia, sekaligus taruhan yang belum teruji dalam skala penuh setahun penuh.

Realisasi pasokan FAME sebesar itu, ditambah kepatuhan SPBU dan sektor non-otomotif terhadap parameter mutu yang baru berjalan serta perluasan cakupan ke seluruh SPBU hingga Oktober 2026, akan menentukan apakah proyeksi hemat devisa itu tercapai tanpa memicu lonjakan harga minyak goreng bagi rumah tangga.

Sejauh ini belum ada panduan resmi dari ESDM soal jadwal ganti filter atau pembersihan tangki bagi pemilik kendaraan diesel pasca-B50, meski Prof. Tulus menyebut kontrol mutu dan pemantauan teknis sebagai syarat yang tidak boleh diabaikan.