Kalasuara - Sebuah petisi daring yang menuntut FIFA mendiskualifikasi Argentina dari Piala Dunia 2026 menembus 10 juta tanda tangan pada 15 Juli 2026, delapan hari setelah wasit asal Prancis François Letexier menganulir gol Mesir lewat video assistant referee dalam laga 16 besar di Atlanta. Video assistant referee, atau VAR, adalah sistem tinjauan ulang keputusan wasit memakai rekaman video yang kini dipakai di seluruh laga Piala Dunia.

Argentina sempat tertinggal 0-2 dari gol Yasser Ibrahim dan Mostafa Ziko pada laga 7 Juli itu, sebelum membalik keadaan lewat tiga gol dalam 13 menit terakhir: Cristian Romero, Lionel Messi, dan gol kemenangan Enzo Fernández di menit ke-92. Messi sendiri sempat gagal mengeksekusi penalti pada babak pertama setelah pelanggaran terhadap Nicolás Tagliafico, tendangannya ditepis kiper Mesir. Menjelang laga usai, klaim penalti Mesir dalam salah satu insiden turut jadi sorotan setelah tak sempat ditinjau ulang oleh VAR, dan pelatih kiper Mesir, Saafan Elsaghir, menerima kartu merah setelah harus ditahan rekan-rekannya agar tak mendekati Letexier.

Apa yang membuat gol Mesir dianulir?

Upaya gol Mostafa Ziko sekitar menit ke-58, yang semula tampak membawa Mesir unggul 2-0, dibatalkan setelah tinjauan VAR menemukan pelanggaran Marwan Attia terhadap Lisandro Martínez pada fase build-up sebelum bola sampai ke kakinya. Ziko kemudian benar-benar mencetak gol keduanya yang sah lewat serangan balik cepat di menit ke-67, yang kali ini disahkan dan membawa Mesir unggul 2-0. Keputusan penganuliran gol pertama itulah yang memicu gelombang protes, karena dianggap sejumlah pengamat terlalu jauh menafsirkan ulang jalannya serangan.

Pelatih Timnas Mesir Hossam Hassan menuding motif di balik keputusan itu. "Perhaps they wanted to keep the world champion in the competition. Perhaps they wanted Messi to stay in the running," katanya seusai laga.

EFA desak FIFA coret Letexier dari sisa turnamen

Asosiasi Sepak Bola Mesir, dipimpin Presiden Hany Abo Rida, mengajukan komplain resmi terhadap Letexier dan tim asistennya, serta meminta wasit itu tak lagi ditugaskan memimpin laga hingga turnamen usai. "Several key incidents raised serious concerns and left profound questions about the consistency and fairness of decisions that directly influenced the course of the game," demikian pernyataan resmi EFA. Permintaan itu, bila dikabulkan, akan jadi preseden langka campur tangan sebuah federasi terhadap penunjukan wasit FIFA.

FIFA bantah bias, tapi ubah cara kerja VAR

Kepala wasit FIFA Pierluigi Collina menolak tudingan bias dalam wawancara 9 Juli. "Constructive discussion about decisions will always be part of football, but unfounded allegations have no place in our sport," ujarnya. Pelatih Argentina Lionel Scaloni juga membantah laga diatur untuk timnya. "Today, it is simply impossible for referees to favor any side," katanya.

Meski begitu, FIFA mengubah protokol VAR mulai babak perempat final: setiap laga kini mendapat tim VAR utama dan cadangan yang bertugas langsung di dalam stadion, bukan lagi terpusat di ruang operasi video (IBC) Dallas. Perubahan itu menyusul kritik atas laga Argentina-Mesir dan sejumlah insiden lain di turnamen, termasuk laga Balogun lolos skorsing setelah Trump telepon FIFA, AS kalah 4-1. Teknologi peninjauan otomatis lain di turnamen ini, seperti mesin offside berbasis pelacakan 10 sentimeter FIFA, juga terus disorot ketat sejak fase grup.