Kalasuara - Inggris menyingkirkan Norwegia 2-1 lewat perpanjangan waktu di perempat final Piala Dunia 2026, Sabtu (11/7) di Hard Rock Stadium, Miami Gardens, sekitar pukul 04.00 WIB dini hari Minggu (12/7). Jude Bellingham mencetak dua gol untuk Inggris, satu jelang turun minum dan satu lagi di babak tambahan, membalikkan keunggulan Norwegia yang dibuka Andreas Schjelderup pada menit ke-36. Laga ini bakal diingat lewat satu momen di menit ke-44: Alexander Sorloth menerima umpan terobosan Martin Odegaard dalam situasi dua lawan satu bersama Erling Haaland yang berdiri bebas, lalu memilih menembak sendiri. Bek Inggris John Stones memblok tembakan itu, dan keputusan Sorloth langsung jadi sorotan nasional setelah Norwegia gagal mencapai semifinal pertama dalam sejarah mereka.

Momentum yang lenyap dalam satu sentuhan

Sorloth menjelaskan keputusannya usai laga. Ia mengaku sempat mengontrol bola dan melihat Stones sudah menutup jalur umpan ke Haaland, sehingga ia menunggu pergerakan lawan alih-alih menciptakan ruang sendiri.

"I take a touch and look up, and then I see that Stones blocks that pass. Then I take another touch, and that is too bad. I wait for him to make a move instead of me making him make a move."

kata Alexander Sorloth, penyerang Timnas Norwegia.

Momen itu ternyata hanya separuh cerita. Babak kedua menyimpan drama lain yang kalah tenar dibanding sorotan ke Sorloth: gol kedua Norwegia yang sempat berdiri di papan skor, sebelum dianulir wasit.

Mengapa gol kedua Norwegia dianulir VAR?

Wasit Clement Turpin membatalkan gol Torbjørn Heggem di babak kedua setelah tayangan ulang VAR, atau video assistant referee, sebuah sistem tinjauan video yang membantu wasit meninjau ulang keputusan krusial, menunjukkan Erling Haaland melakukan pelanggaran terhadap pemain Inggris sesaat sebelum sepak pojok dieksekusi. Gol itu sempat membawa Norwegia unggul lagi, sebelum dianulir dan skor kembali imbang.

Keputusan ini menambah lapisan kedua pada margin tipis yang menyingkirkan Norwegia, seperti dijelaskan dalam ulasan soal teknologi garis offside FIFA yang jadi sorotan sepanjang turnamen ini. Bila peluang Sorloth-Haaland di babak pertama ramai dibicarakan publik, pelanggaran Haaland sendiri menjelang sepak pojok itu justru luput dari sebagian pemberitaan, padahal sama-sama menentukan jalannya laga hingga ke perpanjangan waktu.

"We have been playing at the highest level, and the margins were not in our favour, but that's life, and now we need to breathe a bit."

kata Ståle Solbakken, pelatih kepala Timnas Norwegia.

Norwegia mencatat sejarah, tetap pulang lebih awal

Perempat final Piala Dunia 2026 adalah yang pertama sepanjang sejarah keikutsertaan Norwegia di turnamen ini. Mereka melangkah sejauh itu setelah menyingkirkan Brasil di babak 16 besar lewat dua gol Erling Haaland, yang menjadikan duet Haaland-Sorloth di lini depan sebagai andalan sepanjang turnamen, dengan Odegaard mengatur serangan dari lini tengah.

Namun di perempat final melawan Inggris, Haaland gagal mencetak gol atau assist penentu, dan tanpa ia sempat menyentuh bola pada momen dua lawan satu paling krusial laga itu. Kiper Inggris Jordan Pickford juga tercatat melakukan sejumlah penyelamatan penting untuk mementahkan peluang Sorloth dan Haaland sepanjang babak kedua.

Inggris menatap Argentina, Norwegia mengevaluasi skuad muda

Kemenangan ini membawa Inggris ke semifinal melawan Argentina, sang juara bertahan. Pelatih Thomas Tuchel mengakui timnya tampil di bawah level terbaik meski hasil akhirnya sesuai target.

"We made life very, very difficult for ourselves today. The result is fantastic. We are in the last four, its amazing but not happy with the performance."

kata Thomas Tuchel, pelatih kepala Timnas Inggris.

Bagi Norwegia, federasi dan publik kini menunggu evaluasi Solbakken atas skuad muda mereka menjelang siklus kualifikasi berikutnya. Sorloth sendiri kemungkinan masih menghadapi sorotan media begitu musim klub bersama Atletico Madrid dimulai.