Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa ia menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino dan meminta peninjauan atas sanksi kartu merah striker Folarin Balogun. FIFA menangguhkan skorsing satu laga Balogun pada Minggu 5 Juli 2026, sehari sebelum laga 16 besar Piala Dunia 2026 melawan Belgia di Seattle. Balogun tampil sebagai starter. Amerika Serikat kalah 4-1.

Kartu merah itu diterima Balogun di babak 32 besar lawan Bosnia-Herzegovina. Rekaman video memperlihatkan ia mendarat di atas pergelangan kaki Tarik Muharemovic saat laga berakhir 2-0 untuk AS. Hukuman otomatis untuk jenis pelanggaran semacam itu adalah absen satu pertandingan. FIFA menangguhkan hukuman itu dengan mengacu pada Pasal 27 Kode Disiplin, diumumkan sehari sebelum laga pertama fase gugur AS.

Trump tidak menyembunyikan keterlibatannya. "Itu bukan pelanggaran. Bahkan bukan pelanggaran sama sekali," katanya kepada wartawan, kemudian menambahkan: "Jadi ya, saya meminta peninjauan oleh FIFA." Infantino membenarkan adanya komunikasi itu: "Ya, saya secara rutin membahas hal-hal terkait Piala Dunia FIFA bersama presiden Amerika Serikat."

Mengapa penggunaan Pasal 27 memicu kontroversi?

Pasal 27 Kode Disiplin FIFA adalah mekanisme penangguhan pelaksanaan sanksi, selama ini dipakai untuk hukuman jangka panjang. Penggunaannya untuk menganulir skorsing satu laga akibat kartu merah langsung di lapangan memicu tuduhan bahwa aturan itu dipilih demi melayani permintaan dari luar, terlebih prosesnya tidak melalui banding independen mana pun.

Laporan menyebutkan aparat pemerintah AS dan gugus tugas Piala Dunia Gedung Putih ikut membantu menyusun argumen yang diajukan ke FIFA. Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter menanggapinya ringkas: "Kartu merah tidak dibatalkan oleh telepon politik. Kartu merah dibatalkan oleh aturan, bukti, dan badan independen."

Reaksi dari kubu Belgia lebih sarkastis. "Saya tidak tahu bahwa di kantor FIFA, 5 Juli adalah 1 April di Eropa," kata pelatih Rudi Garcia. Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) meminta penjelasan tertulis dari FIFA. Permintaan itu ditolak. UEFA menyatakan keputusan itu "melewati garis merah" dan menyebutnya tidak pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, serta tidak dapat dibenarkan.

Garrincha 1962: preseden 64 tahun yang kini berakhir

Catatan serupa sebelumnya hanya ada satu dalam sejarah FIFA. Garrincha, gelandang serang Brasil yang oleh banyak pengamat dianggap setara Pelé di zamannya, diusir dari lapangan saat semifinal Piala Dunia 1962 lawan Chile. FIFA kala itu tetap mengizinkannya tampil di final melawan Cekoslowakia. Brasil menang 3-1.

Catatan itu bertahan tanpa pengulangan selama 64 tahun, melewati era VAR, berbagai revisi kode disiplin, dan perluasan Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim dan 104 laga. Pada 5 Juli 2026, catatan itu berakhir. Keputusan yang mengakhirinya lahir dari percakapan antara seorang kepala negara dan ketua federasi, tanpa tinjauan panel independen yang bisa diverifikasi publik.

PSSI 2015 dan pembacaan dari Indonesia

Kasus ini memiliki lapisan tersendiri bagi Indonesia. Pada 30 Mei 2015, FIFA membekukan PSSI karena intervensi pemerintah: Kementerian Pemuda dan Olahraga saat itu membubarkan kompetisi dan mencampuri urusan internal federasi. Sanksi baru dicabut 13 Mei 2016, hampir setahun kemudian, dengan konsekuensi timnas tidak bisa mengikuti kompetisi internasional selama periode itu.

Larangan yang pernah dikenakan kepada Indonesia atas dasar "intervensi pemerintah" kini berdiri berdampingan dengan fakta bahwa presiden FIFA sendiri menerima dan menindaklanjuti permintaan seorang kepala negara untuk menganulir hukuman di lapangan. Diskusi soal bagaimana FIFA menafsirkan batas "intervensi" dalam statuta-nya kemungkinan akan menguat, terutama di kalangan federasi yang pernah menanggung akibatnya. Sorotan terhadap keputusan teknis FIFA di Piala Dunia 2026 memang sudah berlangsung sejak awal turnamen, dan kasus Balogun menambah satu lapisan baru dalam perdebatan itu.

4-1 di Seattle

Intervensi diplomatik itu tidak mengubah hasil di lapangan. Charles De Ketelaere membuka skor lewat sundulan, lalu mencetak gol kedua dengan cara yang sama. Malik Tillman sempat menyamakan lewat tendangan bebas dari pelanggaran yang justru diperoleh Balogun. Hans Vanaken memulihkan keunggulan Belgia di menit ke-57 sebelum Romelu Lukaku menutup laga dengan gol keempat.

Amerika Serikat tersingkir dari turnamen yang mereka jadi tuan rumah bersama. FIFA hingga berita ini diturunkan belum merilis pertimbangan tertulis atas penerapan Pasal 27 dalam kasus ini. Tanpa dokumen itu, preseden yang kini terbuka tetap bisa diklaim oleh siapa saja di sisa turnamen.