Empat hari sebelum bola pertama ditendang, hitung-hitungan yang paling menentukan bagi penonton Indonesia bukan soal siapa juara, melainkan soal jam tidur. Piala Dunia FIFA 2026 dibuka pada 11 Juni di Estadio Azteca, Mexico City, lewat laga tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan. Karena seluruh pertandingan digelar di benua Amerika dengan selisih belasan jam dari Waktu Indonesia Barat, laga pembuka itu justru tiba di layar pemirsa Tanah Air pada dini hari 12 Juni. Sepak bola dunia akan datang gratis ke ruang keluarga lewat TVRI, tetapi datang pada jam yang salah.

Edisi ke-23 ini sekaligus menjadi yang terbesar yang pernah digelar: 48 tim, 104 pertandingan, tiga negara tuan rumah sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, yang tersebar di 16 kota. Turnamen membentang lebih dari sebulan, dari pembukaan di Azteca hingga final di MetLife Stadium, kawasan New York dan New Jersey, pada 19 Juli 2026. Dari sisi angka, label "terbesar dalam sejarah" memang sulit dibantah. Jumlah laga melonjak dari 64 pada format 32 tim di Qatar 2022 menjadi 104.

Yang berubah bukan sekadar jumlah peserta

Pembesaran ini gampang dibaca keliru. Menambah peserta dari 32 menjadi 48 terdengar seperti aritmetika sederhana, tinggal menyelipkan 16 tim baru. Yang sebenarnya terjadi lebih dalam dari itu: FIFA menyisipkan satu babak gugur yang sebelumnya tidak pernah ada, yakni babak 32 besar. Turnamen kini berisi 12 grup yang masing-masing diisi empat tim. Juara dan runner-up tiap grup otomatis lolos, lalu ditambah delapan tim peringkat ketiga terbaik dari seluruh grup. Total 32 tim melaju ke fase gugur, baru kemudian menyusut lewat 16 besar, perempat final, semifinal, dan final.

Di sinilah letak perubahan yang jarang disorot. Pada format 32 tim, hanya separuh peserta yang lolos dari fase grup, 16 dari 32. Pada format baru, dua pertiga peserta lolos, 32 dari 48. Ambang untuk bertahan turun drastis. Sebuah tim bisa kalah satu laga, bahkan finis ketiga di grupnya, dan tetap punya tiket ke babak gugur. Konsekuensi taktisnya nyata: insentif untuk bermain habis-habisan sejak laga grup berkurang, karena ruang kesalahan jauh lebih lebar ketimbang era sebelumnya.

Ironisnya, kelonggaran itu bertabrakan dengan alasan FIFA mengubah desain grup. Rancangan awal format 48 tim memakai 16 grup berisi tiga tim. Setelah Qatar 2022, FIFA menggantinya menjadi 12 grup berisi empat tim, salah satunya untuk menghindari laga pamungkas grup yang "mati" dan menjaga ketegangan sampai peluit akhir. Namun skema delapan peringkat ketiga terbaik mengembalikan kerumitan dari pintu lain. Nasib sebuah tim bisa bergantung pada hasil di grup yang sama sekali tidak ia mainkan, sehingga sebagian laga terakhir berpotensi berubah menjadi kalkulasi peringkat lintas grup, bukan adu menang-kalah murni. Apakah ketegangan benar-benar terjaga atau justru muncul laga "main aman" baru akan terjawab di lapangan.

Pesta gratis, tagihan publik

Bagi Indonesia yang kembali absen dari putaran final, Piala Dunia adalah soal ekonomi perhatian, bukan prestasi. Pasar penontonnya tetap raksasa meski Garuda tidak ikut. Yang berubah tahun ini adalah siapa yang menanggung beban menghadirkannya. TVRI memegang hak siar eksklusif dan berkomitmen menayangkan seluruh 104 laga secara gratis melalui kanal TVRI Nasional dan TVRI Sport, dengan opsi streaming resmi sebagai pelengkap. Keputusan ini menggeser biaya hak siar ke lembaga penyiaran publik, bukan ke operator berbayar seperti pada sejumlah edisi sebelumnya.

"Piala Dunia 2026 melalui TVRI dihadirkan untuk seluruh rakyat Indonesia, dengan akses yang inklusif," kata Direktur Utama LPP TVRI Iman Brotoseno. Ia menekankan jangkauan teknologi yang sederhana sebagai keunggulan model gratis ini. "Masyarakat bisa mengakses siaran Piala Dunia, melalui platform FTA atau teresterial dengan menggunakan antena biasa," ujarnya.

Klaim inklusivitas itu bukan retorika kosong. Antena biasa menjangkau rumah tangga yang tidak berlangganan layanan streaming atau televisi berbayar, termasuk di daerah dengan koneksi internet terbatas. Namun model ini menaruh pertaruhan pada TVRI sendiri. Menyiarkan 104 laga, hampir dua kali lipat beban edisi 32 tim, menuntut konsistensi kualitas teknis, ketersediaan kanal pendamping saat banyak laga berlangsung paralel, dan strategi komersial yang mampu menutup ongkos hak siar tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan. Gratis di sisi penonton tidak berarti murah di sisi penyelenggara.

Maraton dini hari dan dampak yang jarang dihitung

Selisih waktu mengubah cara turnamen ini dikonsumsi di Indonesia. Dengan kickoff mengikuti zona waktu Amerika, mayoritas pertandingan jatuh pada rentang malam hingga dini hari WIB. Selama lebih dari sebulan, terutama saat fase grup berlangsung padat dari 11 hingga 27 Juni, jutaan penonton menghadapi pilihan rutin antara mengikuti laga dan tidur cukup.

Efek lanjutannya menyentuh hal-hal yang biasanya luput dari liputan sepak bola. Pola begadang massal selama berminggu-minggu berpotensi menekan produktivitas kerja pada pagi hari, mendorong konsumsi listrik pada jam-jam ganjil, dan memicu lonjakan trafik streaming serta media sosial pada dini hari. Ini bukan ramalan pasti, melainkan kecenderungan yang masuk akal diantisipasi dan layak dipantau dengan data konsumsi listrik serta telekomunikasi menjelang dan selama turnamen. Sebuah ajang yang tidak diikuti Indonesia tetap berubah menjadi persoalan logistik dan ekonomi rumah tangga di dalam negeri.

Para bintang dan pemanasan terakhir

Argentina datang sebagai juara bertahan dan memulai langkah di fase grup, dengan laga pembuka melawan Aljazair pada 16 Juni. Menjelang turnamen, tim asuhan Lionel Scaloni menjalani serangkaian uji coba, termasuk melawan Honduras pada 6 Juni dan Islandia pada 9 Juni. Di sela persiapan itu, perhatian terbesar tertuju pada kebugaran Lionel Messi.

Scaloni menyatakan kondisi Messi membaik dan sang kapten sudah mulai berlatih sebagian bersama tim, sehingga berpeluang tampil beberapa menit pada laga uji coba. Indikasi itu memperlihatkan pola yang lazim di turnamen besar: pemain papan atas dijaga ketat dan diberi menit bertahap agar tiba dalam kondisi puncak saat fase yang menentukan, bukan saat pemanasan. Soal identitas permainan, Scaloni tak ragu. "Our team has a clear style of play, and we're not going to betray it," katanya jelang laga lawan Honduras.

Dari kursi penyelenggara, Presiden FIFA Gianni Infantino menjanjikan pengalaman yang membekas. "We'll make sure that it'll be an unforgettable experience for everyone who will be there on the weekend of the FIFA World Cup final," ujarnya dalam pernyataan menjelang turnamen pada pertengahan Mei. Janji itu menyasar mereka yang hadir langsung di akhir pekan final. Bagi pemirsa di rumah, terutama di zona waktu yang jauh seperti Indonesia, pengalaman yang membekas mungkin lebih banyak berupa kantong mata dan kopi dini hari.

Yang perlu dipantau

Beberapa hal akan menentukan apakah eksperimen format terbesar ini berjalan mulus atau menyisakan persoalan. Pertama, momentum awal: jam tayang dini hari WIB pada pembukaan 11 dan 12 Juni akan menguji seberapa kuat antusiasme penonton Indonesia bertahan dari malam ke malam. Kedua, kebugaran bintang seperti Messi dan pemain papan atas lain yang belum sepenuhnya pulih pada fase uji coba, sebuah risiko bawaan dari kalender klub yang padat sebelum turnamen.

Ketiga, ujian format itu sendiri. Apakah grup berisi empat tim ditambah skema delapan peringkat ketiga benar-benar menjaga ketegangan, atau malah melahirkan laga akhir grup yang penuh kalkulasi. Keempat, ketahanan TVRI dalam menjaga kualitas siaran 104 laga gratis sekaligus menutup biayanya. Dan kelima, dampak sosial dari pola begadang berkepanjangan, sudut yang lebih jujur diukur dengan data ketimbang ditebak. Untuk detail jam tayang tiap laga, jadwal resmi TVRI menjelang hari pertama tetap menjadi rujukan paling aman, mengingat jendela siaran mengikuti waktu kickoff di Amerika.