Kalasuara - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengajak perusahaan-perusahaan China menanamkan modal di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). Presiden Prabowo Subianto menargetkan proyek ini akan rampung pada 2029. Ajakan itu ia sampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai, Jumat (17/7/2026) malam, dan baru diumumkan lewat keterangan resmi yang diterima di Jakarta keesokan harinya.
Di forum yang sama, Airlangga memuji keterlibatan investor China di PLTS Terapung Cirata sebagai bukti potensi kerja sama energi bersih kedua negara. Ia lalu meminta rantai pasok industri panel surya domestik "diperkuat dan dikembangkan lebih lanjut" agar produksinya lebih terintegrasi di dalam negeri. Permintaan itu keluar dari mulutnya sendiri, di forum yang sama tempat ia baru saja memuji modal China di Cirata.
Mengapa Airlangga memburu investasi China untuk PLTS 100 GW?
Target 100 GW yang dipatok Prabowo untuk 2029 menuntut pendanaan dan kapasitas produksi jauh di atas kemampuan industri surya domestik saat ini. China adalah salah satu dari tiga sumber investasi asing terbesar Indonesia, dengan realisasi hampir 8,1 miliar dolar AS pada 2025, atau sekitar 13 persen dari total investasi asing yang masuk. Itu membuat China mitra paling masuk akal untuk mengejar tenggat yang sudah dekat.
"Indonesia mengapresiasi keterlibatan investasi China dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata. Proyek tersebut menunjukkan besarnya potensi kerja sama Indonesia-China dalam mendukung transisi energi, pengembangan energi bersih, dan pencapaian target penurunan emisi," kata Airlangga.
Permintaan rantai pasok yang menyingkap ketergantungan
Pujian Airlangga terhadap Cirata justru menunjukkan sisi rapuh proyek energi bersih andalan pemerintah itu: modul dan teknologi yang beroperasi di sana selama ini bertumpu pada pasokan asing. Permintaan penguatan rantai pasok domestik yang ia sampaikan di forum yang sama mengakui hal itu secara implisit. China, produsen panel surya terbesar dunia, ditawari peran ganda: pendana proyek sekaligus mitra yang diminta membantu memperkuat industri surya nasional supaya tidak selamanya bergantung pada modal dan komponen impor.
Investasi China di sektor energi RI selama ini juga masuk dalam kelompok besar bersama industri pengolahan, perdagangan, properti, serta transportasi dan pergudangan, sesuai keterangan resmi pertemuan tersebut.
Bedah angka: 30 MoU triliunan yang belum jadi proyek
Skema Two Countries Twin Parks (TCTP), kerja sama kawasan industri RI-China, sejauh ini menghasilkan 30 nota kesepahaman dengan estimasi nilai investasi sekitar Rp37,1 triliun. Angka itu terdengar besar, tapi Airlangga sendiri yang mengakui gap antara janji di atas kertas dan realisasi di lapangan.
"Berbagai Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani perlu segera ditindaklanjuti menjadi investasi nyata. Kami juga mendorong pembentukan joint venture agar kerja sama TCTP dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih konkret," ujarnya.
Ia lantas meminta dukungan Kementerian Perdagangan China agar lebih banyak perusahaan China berinvestasi di kawasan industri dan kawasan komersial Indonesia, serta mendorong pembentukan usaha patungan antar pelaku usaha kedua negara. Pola MoU besar yang belum berubah jadi proyek berjalan ini bukan yang pertama dalam hubungan investasi bilateral Indonesia.
Konteks: dari Cirata ke Danantara
Nilai perdagangan Indonesia-China pada 2025 mencapai 154,6 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan rata-rata 7,24 persen sepanjang 2021-2025. Skala hubungan dagang itulah yang membuat forum Shanghai menyentuh lebih dari sekadar satu proyek PLTS: Indonesia juga meminta dukungan China untuk pembentukan dan penempatan Sekretariat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Indonesia, serta penguatan agenda RCEP 3.0.
Airlangga menyebut Danantara Indonesia sebagai mitra strategis untuk menarik investasi berkualitas dan memperkuat kapasitas produksi nasional, penekanan yang sejalan dengan permintaannya soal rantai pasok surya domestik. Ambisi energi terbarukan Indonesia sebenarnya sudah punya presedan: peluncuran biodiesel B50 sebagai yang pertama di dunia juga menghadapi pertanyaan serupa soal kesiapan rantai pasok domestik di baliknya.
"Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga kepastian kebijakan dan menciptakan iklim investasi yang kondusif. Kami berharap pertemuan ini dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama dan proyek yang konkret sehingga memberikan manfaat seimbang dan saling menguntungkan bagi kedua negara," kata Airlangga.
Proyek prioritas menuju APEC 2026
Indonesia menyatakan dukungan atas keketuaan China di APEC 2026 dan berharap proyek-proyek prioritas kedua negara dapat diidentifikasi untuk diumumkan pada pertemuan pemimpin RI-China mendatang. Tiga hal akan menentukan apakah pertemuan Shanghai ini berbuah nyata: apakah 30 MoU TCTP senilai Rp37,1 triliun benar-benar berubah jadi konstruksi atau joint venture, apakah pemerintah mengumumkan langkah konkret untuk kapasitas produksi panel surya domestik, dan proyek prioritas apa yang akhirnya dipilih untuk diumumkan menjelang APEC.




Komentar