Skor 2-0 atas Honduras di Kyle Field, College Station, Minggu (7/6/2026) dini hari WIB, sebenarnya tidak banyak bercerita. Yang berbicara justru bangku cadangan Argentina. Lionel Messi duduk di luar lapangan karena kelelahan otot di hamstring kiri, kiper utama Emiliano "Dibu" Martínez absen dengan jari manis patah, dan Julián Álvarez tidak masuk sebelas pertama. La Albiceleste tetap menang lewat penalti Lautaro Martínez di menit ke-36 dan gol Giuliano Simeone pada menit ke-54, tetapi laga pemanasan terakhir menjelang turnamen ini menyodorkan pertanyaan yang jauh lebih besar dari papan skor: apakah juara bertahan ini sudah siap hidup tanpa tiga pilarnya?

Kemenangan yang bukan inti cerita

Honduras bukan tolok ukur yang serius. Tim Amerika Tengah itu gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah hanya bermain imbang tanpa gol melawan Kosta Rika di laga penentuan, sehingga laga di Texas lebih berguna sebagai uji ritme ketimbang ujian kualitas. Argentina mendominasi sejak awal dengan 71 persen penguasaan bola di babak pertama, dan kemenangan ini memperpanjang catatan menjadi lima laga uji coba beruntun tanpa kalah menuju turnamen.

Susunan yang diturunkan Lionel Scaloni justru yang menarik dibaca: Musso di bawah mistar; Giay, Otamendi, Lisandro Martínez, dan Tagliafico di lini belakang; Giuliano Simeone, Palacios, serta Valentín Barco di tengah; Lo Celso sebagai penyambung; lalu Thiago Almada dan Lautaro Martínez di depan. Ada veteran 2022 berdampingan dengan dua pemain berusia 21 tahun, Giay dan Barco. Inilah komposisi yang ingin diuji Scaloni — bukan untuk mengalahkan Honduras, melainkan untuk melihat seberapa jauh lapis kedua bisa menanggung beban saat para bintang absen.

Laga ini adalah yang pertama dari dua pemanasan pamungkas. Setelah Honduras, Argentina akan menjajal Islandia beberapa hari lagi, sebelum membuka pertahanan gelar melawan Aljazair pada 16 Juni di Kansas City. Grup J juga dihuni Yordania, debutan Piala Dunia, dan Austria, yang kembali ke pentas Piala Dunia untuk pertama kali sejak 1998.

Angka retensi yang sering dicampur

Di sinilah satu kebingungan layak diluruskan. Beredar dua angka tentang berapa banyak pemain juara 2022 yang Scaloni bawa kembali, dan keduanya benar tetapi mengukur hal berbeda. ESPN mencatat 17 dari 26 nama di skuad 2026 berasal dari tim juara Qatar. Angka itu sudah memasukkan penjaga gawang. World Soccer Talk memakai ukuran yang lebih spesifik: 15 pemain non-kiper, atau outfield, yang dipertahankan — dan dengan ukuran inilah Argentina memuncaki seluruh juara bertahan abad ini.

Pembedaan ini penting karena yang dibandingkan adalah pemain lapangan, posisi yang paling cepat tergerus usia dan ritme kompetisi. Sebagai pembanding, Spanyol membawa 14 pemain outfield juaranya ke 2014 dan tersingkir di fase grup. Italia hanya delapan pada 2010 dan gugur dini, sama seperti Jerman dengan delapan pemain pada 2018. Prancis menempuh jalan paling berbeda: hanya tujuh pemain outfield juara 2018 yang bertahan ke 2022, namun tim itu justru melaju ke final. Pola yang muncul saat angka-angka ini disandingkan tidak menyenangkan bagi pendukung loyalitas skuad: tidak ada korelasi jelas antara mempertahankan banyak juara lama dan keberhasilan mempertahankan gelar. Yang paling banyak menahan pemain, Spanyol, justru tersingkir paling memalukan.

Catatan sejarahnya bahkan lebih keras. Tak ada tim yang berhasil mempertahankan trofi Piala Dunia sejak Brasil pada 1962. Prancis 1998, Italia 2006, Spanyol 2010, dan Jerman 2014 semuanya gagal melewati rintangan yang sama. Argentina kini hendak menembusnya dengan strategi yang secara statistik paling konservatif di antara para pendahulu yang gagal.

Filosofi Scaloni: kesetiaan atau bom waktu

Keputusan paling tegas dari Scaloni bukanlah siapa yang dimainkan melawan Honduras, melainkan siapa yang dicoret. Franco Mastantuono, wonderkid yang pindah ke Real Madrid pada 2025, tidak masuk 26 pemain. Bek Marcos Senesi dari Bournemouth dan gelandang serang Emiliano Buendía dari Aston Villa juga absen. Pencoretan Mastantuono menjadi kejutan terbesar, dan ia membaca seperti pernyataan filosofi: Scaloni memilih kepastian para pemenang ketimbang potensi yang belum teruji di level tertinggi.

Pilihan itu masuk akal sampai cedera bicara. Sebelum turnamen dimulai, dua dari pilar paling penting sudah bermasalah. Messi, yang akan berusia 38 tahun di Piala Dunia ini, dijaga dengan ekstra hati-hati. Dibu Martínez, kiper yang menjadi pahlawan adu penalti final 2022, justru cedera. Tulang punggung yang dipertahankan karena pengalamannya ternyata juga membawa kerentanan fisik yang melekat pada usia — dan itu terlihat bahkan sebelum laga resmi pertama.

Risiko inilah yang membayangi seluruh kampanye. Mempertahankan banyak juara menjaga kohesi, otomatisme, dan mentalitas pemenang yang sulit dibangun ulang. Tetapi ia juga menumpuk menit pada kaki-kaki yang sudah melewati puncak, di sebuah turnamen yang untuk pertama kalinya diikuti 48 tim dengan jadwal lebih padat. Lautaro Martínez, kini dengan 36 gol internasional dan status top skor Copa América 2024, menjadi contoh sisi cerah dari kesinambungan itu. Pertanyaannya apakah lini tengah dan belakang yang menua bisa bertahan sampai babak knockout dengan ritme yang sama.

Apa kata Scaloni soal Messi

Scaloni sendiri memilih nada tenang soal kondisi kaptennya. "Perkembangannya cukup baik, hingga pada titik di mana ia bisa berpartisipasi dalam dua laga persahabatan (Honduras dan Islandia) selama beberapa menit. Kami akan mengevaluasi apakah hal itu terjadi besok melawan Honduras atau di pertandingan berikutnya, tetapi ia merasa jauh lebih baik, dan itu memberi kami ketenangan pikiran yang luar biasa," ujar pelatih asal Argentina itu, seperti dilaporkan Metro TV.

Toh nada itu tetap berhati-hati. Soal evaluasi cedera hamstring Messi, Scaloni menahan diri dari kepastian. "Obviously we would have preferred that nothing had happened. Now one has to wait and see how it evolves and above all the new tests they are going to conduct in order to see if it confirms their original diagnosis," katanya kepada DSports. Optimisme dan kehati-hatian berdampingan: sang kapten membaik, tetapi keputusan akhir menunggu hasil tes lanjutan.

Soal Dibu Martínez, situasinya lebih terbuka lagi. Patah jari manis membuat kiper andalan itu diragukan, sehingga pos penjaga gawang di laga pembuka melawan Aljazair belum benar-benar pasti, dengan Musso dan Gerónimo Rulli sebagai opsi jika Dibu belum pulih.

Di luar urusan kebugaran, World Soccer Talk dalam analisisnya mempertanyakan apakah dosis pembaruan dalam skuad ini sudah memadai untuk menembus kutukan juara bertahan, justru karena Argentina membawa pemain outfield juara paling banyak di antara seluruh pendahulunya abad ini. Penilaian itu menempatkan kemenangan atas Honduras dalam bingkai yang tepat: bukan bukti kesiapan, melainkan latihan menambal lubang yang akan menganga jika Messi atau Dibu absen lebih lama.

Lapisan Indonesia: penonton besar, siaran tipis

Bagi penggemar di Tanah Air, Piala Dunia 2026 punya makna tersendiri. Indonesia memiliki salah satu basis pendukung Argentina dan Messi terbesar di dunia, antusiasme yang sempat meledak saat timnas Argentina menjamu Indonesia di Jakarta pada Juni 2023. Turnamen ini kemungkinan besar adalah kesempatan terakhir menyaksikan Messi di panggung Piala Dunia. Edisi 2026 sekaligus menjadi penampilan keenamnya — rekor tampil di enam Piala Dunia yang kini ia bagi bertiga dengan Cristiano Ronaldo dan kiper Meksiko Guillermo Ochoa.

Namun ada jurang antara besarnya permintaan penonton lokal dan ketersediaan siaran. Laga melawan Honduras dilaporkan tidak disiarkan langsung oleh stasiun televisi nasional maupun platform streaming resmi di Indonesia, menurut Suara Merdeka, memaksa penggemar berburu siaran alternatif pada slot dini hari akhir pekan. Kontras itu terasa janggal mengingat turnamen utamanya sendiri direncanakan tayang gratis lewat TVRI. Untuk laga non-turnamen seperti pemanasan ini, pasar penonton yang besar belum tentu diiringi hak siar yang memadai, dan itu menjadi isu konsumen yang nyata menjelang kickoff.

Yang perlu dipantau

Beberapa penanda akan lebih berbicara daripada hasil melawan Honduras. Pertama, menit bermain Messi melawan Islandia. Scaloni mengisyaratkan kaptennya bisa turun "beberapa menit" di salah satu uji coba, dan apakah itu terjadi melawan Islandia akan menjadi indikator kebugaran paling penting sebelum 16 Juni. Kedua, kepastian pos penjaga gawang setelah cedera Dibu Martínez. Ketiga, penampilan lapis kedua seperti Barco, Giay, Giuliano Simeone, dan Nico Paz, yang akan menentukan seberapa dalam rotasi yang bisa diandalkan Scaloni di format 48 tim.

Ujian sebenarnya atas seluruh tesis kesetiaan pada pemenang ini baru datang melawan Aljazair. Sampai saat itu, kemenangan tanpa Messi, Dibu, dan Álvarez ini lebih layak dibaca sebagai geladi resik suksesi ketimbang jaminan bahwa kutukan juara bertahan akan patah di tangan Argentina.