Kalasuara - Satu korban ditemukan meninggal dunia di bawah reruntuhan rumah Nomor 3B, Kompleks Grand Polonia, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan, Selasa (21/7/2026) pukul 02.20 WIB, sementara tim SAR gabungan masih mencari dua orang lain yang diduga tertimbun. Ledakan yang meruntuhkan rumah itu terjadi Senin (20/7/2026) sekitar pukul 15.30 WIB, merusak enam hingga tujuh bangunan di sekitarnya serta sejumlah kendaraan yang tertimpa material.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, mengatakan korban yang ditemukan dini hari itu langsung dievakuasi. "Tim SAR Gabungan saat ini terus melakukan pencarian secara intensif dengan metode yang disesuaikan dengan kondisi reruntuhan bangunan, pagi ini Pukul 02.20 WIB satu orang korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dan langsung dievakuasi menuju RS Bhayangkara," katanya, sesuai keterangan yang dipublikasikan pukul 08.29 WIB.

Kenapa penyebab ledakan belum bisa dipastikan?

Karena dua sumber resmi mencatat tahap pemeriksaan yang berbeda. Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak menyebut penyelidikan awal mengarah pada kebocoran pipa gas bawah tanah, sementara PGN melaporkan tidak ada metana yang terdeteksi saat memeriksa lokasi setelah ledakan. Kesimpulan penyebab masih menunggu pemeriksaan kondisi fisik pipa dan titik awal kerusakan.

"Hasil investigasi awal adanya kebocoran dari pipa gas tanam atau pipa gas bawah tanam," kata Jean Calvijn Simanjuntak. Area Head PGN Medan, Agus Kurniawan, menyampaikan hasil berbeda dari pengukuran timnya. "Pemeriksaan di lokasi, termasuk di lantai satu dan lantai dua rumah yang terdampak, menunjukkan angka 0 ppm atau tidak terdeteksi adanya kandungan gas metana," ujarnya. Ppm atau part per million adalah satuan yang dipakai detektor gas untuk mengukur konsentrasi metana di udara; angka nol berarti tidak ada gas metana yang terbaca saat alat itu dijalankan.

Angka nol ppm tersebut adalah hasil pengukuran setelah ledakan terjadi dan PGN menghentikan sementara penyaluran gas, bukan gambaran kondisi pipa sebelum dentuman. PGN telah menerjunkan tim teknis dan tanggap darurat ke lokasi untuk memeriksa jaringan lebih lanjut.

Tujuh orang di rumah, dua masih dicari

Polisi mencatat tujuh orang berada di dalam rumah saat ledakan terjadi. Empat orang di antaranya, termasuk seorang balita, berhasil dievakuasi lebih dahulu dalam keadaan selamat; balita itu dibawa ke rumah sakit. Tiga orang lainnya sempat terjebak di bawah reruntuhan. Hingga perkembangan Selasa pagi, satu di antaranya ditemukan tewas dan dua orang masih dalam pencarian tim SAR.

Wiwin, pekerja bangunan yang tengah beristirahat di rumah sebelah bersama lima rekannya, melihat kilatan sesaat sebelum dentuman terdengar. Ia dan rekan-rekannya terkena serpihan kaca lalu berlari menjauhi bangunan. Kejadian berlangsung saat hujan deras dan angin kencang melanda kawasan tersebut.

Brimob turunkan tim penjinak bom dan SAR

Kerusakan yang menjalar ke rumah-rumah sekitar membuat Brimob Polda Sumatera Utara mengerahkan tiga kemampuan khusus sekaligus. "Kami mengerahkan puluhan personel Tim Jibom dan KBR Detasemen Gegana serta Tim SAR Batalyon A Pelopor untuk mendukung proses penanganan di lokasi ledakan," kata Komandan Satuan Brimob Polda Sumatera Utara, M. Rendra Salipu. Tim Jibom memeriksa kemungkinan bahan peledak di reruntuhan, sementara Tim KBR mendeteksi potensi paparan zat berbahaya di sekitar lokasi.

Pencarian dua korban yang masih tertimbun berlanjut dengan alat berat yang harus menyesuaikan stabilitas reruntuhan. Olah tempat kejadian mencakup pemeriksaan kondisi pipa bawah tanah, catatan tekanan jaringan gas sebelum dan sesudah pukul 15.30 WIB, serta kemungkinan sumber penyalaan lain di sekitar rumah. PGN belum mengumumkan kapan penyaluran gas di kawasan itu akan dibuka kembali.