Kalasuara - Gempa berkekuatan magnitudo 5,1 mengguncang distrik Chongos Bajo, Provinsi Chupaca, wilayah Junín di pegunungan Andes tengah Peru pada Sabtu malam, 18 Juli 2026, pukul 21.24 waktu setempat. Episentrum berada sekitar 300 kilometer timur Lima pada kedalaman 24 kilometer, dan 17 menit kemudian menyusul gempa susulan bermagnitudo 3,7 pada kedalaman 18 kilometer. Institut Pertahanan Sipil Nasional Peru (Indeci) awalnya mencatat lima orang tewas dan 21 luka yang sudah divalidasi Kementerian Kesehatan, tetapi angka itu naik menjadi enam orang tewas per Senin, 20 Juli 2026, seiring pembaruan data dari sejumlah media Peru.
Korban bertambah, ratusan warga mengungsi
Data terbaru per 20 Juli mencatat lebih dari 30 orang luka, dengan enam masih dirawat di rumah sakit dan 26 lainnya sudah dipulangkan. Di antara korban tewas ada yang berusia 18 tahun dan empat lansia berusia 68 hingga 73 tahun.
Kerusakan fisik jauh lebih besar dibanding yang biasa terjadi pada gempa bermagnitudo serupa, karena episentrum dangkal berpadu dengan konstruksi rumah warga yang sebagian besar terbuat dari adobe (tanah liat) atau quincha, campuran kayu, bambu, dan lumpur. Sebanyak 48 rumah hancur total dan lebih dari 250 rumah lain rusak, sehingga sekitar 300 orang kehilangan tempat tinggal. Dua rumah sakit, Rumah Sakit Nasional del Centro Daniel Alcides Carrión di Huancayo dan Rumah Sakit Regional Materno Infantil El Carmen, juga terdampak, bersama jaringan listrik, biara Santiago de León, dan Salib Tuhan Cani Cruz de Chongos Alto, monumen bersejarah berusia lebih dari 400 tahun berstatus Warisan Budaya Bangsa.
Direktur Indeci, Luis Vásquez, menyampaikan angka awal saat kejadian: "Yang kami miliki sejauh ini adalah 5 orang tewas dan 21 luka yang sudah divalidasi."
Mengapa kerusakan di Chongos Bajo begitu parah?
Penyebabnya adalah reaktivasi sesar Altos del Mantaro, patahan aktif dekat kota Chupaca yang melepas energi tektonik dalam guncangan permukaan tinggi meski magnitudonya moderat. Kepala Institut Geofisika Peru (IGP), Hernando Tavera, menjelaskan, "Peristiwa seismik apa pun yang terjadi di dekat sesar ini akan menghasilkan tingkat guncangan tanah yang tinggi." IGP mencatat 12 gempa susulan kecil sejak gempa utama.
Peru mengalami sedikitnya 400 gempa per tahun karena berada di cincin api pasifik, busur seismik aktif Pasifik. Adapun gempa kembar yang menewaskan lebih dari 1.719 jiwa di Venezuela tahun ini dipicu sistem sesar berbeda, di batas lempeng Karibia-Amerika Selatan, sehingga tidak berkaitan langsung dengan cincin api Pasifik yang memengaruhi Peru. Sekitar tiga perempat gempa di Peru terlalu lemah untuk dirasakan manusia, tetapi kombinasi kedalaman dangkal dan rumah adobe di Junín membuat gempa kali ini berujung fatal.
Bencana pertama pemerintahan yang sedang berganti
Gempa ini menjadi krisis kemanusiaan besar pertama yang ditangani pemerintahan interim Presiden José María Balcázar, yang menjabat sejak Kongres memakzulkan José Jerí pada Februari 2026. Delapan hari dari sekarang, pada 28 Juli 2026, Keiko Fujimori dijadwalkan dilantik sebagai presiden setelah dinyatakan menang pemilu putaran kedua dan diproklamasikan Jurado Nacional de Elecciones pada 3 Juli lalu.
Balcázar menegaskan pemerintah bergerak cepat menyalurkan bantuan: "Pastikan bahwa kami bertindak dengan cepat. Bantuan sudah berada di tangan otoritas Junín dan juga Pemerintah." Perdana Menteri Luis Arroyo dan Menteri Pertahanan Amadeo Flores meninjau langsung lokasi terdampak. Fujimori, yang belum memegang wewenang eksekutif, turut bersuara lewat pernyataan publik: "Saya sangat menyesalkan dampak gempa yang terjadi di Junín. Saya sampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga korban meninggal dan solidaritas saya kepada mereka yang terdampak."




Komentar