Dua gempa besar menghantam Venezuela utara pada Rabu, 24 Juni 2026. Gempa pertama berkekuatan M7,2 di kedalaman 21,9 kilometer pada pukul 18.04 waktu setempat, lalu M7,5 menyusul 39 detik kemudian dari kedalaman 10 kilometer, sekitar 5 kilometer dari titik pertama di kawasan Yumare-Morón, Negara Bagian Yaracuy. Per 26 Juni, lebih dari 1.430 orang tewas, 3.200 lebih luka-luka, dan lebih dari 50.000 orang dilaporkan belum terdata di antara reruntuhan. Gempa ini adalah yang terkuat di Venezuela sejak San Narciso 1900 (M7,6), memutus jeda 126 tahun.

Kerusakan terparah terjadi di La Guaira, distrik Los Palos Grandes dan Altamira di Caracas, serta Morón. "Dozens of buildings have collapsed, and we are currently carrying out very intense rescue efforts to save as many lives as God allows us to save," kata Delcy Rodríguez, Presiden sementara Venezuela. Peringatan tsunami sempat dikeluarkan untuk kawasan Karibia sebelum akhirnya dicabut. Hingga 26 Juni, 302 peristiwa seismik susulan tercatat, termasuk susulan M4,9.

Mengapa korban mencapai ribuan jiwa?

Gedung-gedung yang roboh itulah yang merenggut nyawa. Sistem PAGER adalah perangkat USGS yang memperkirakan risiko korban jiwa berbasis kerentanan bangunan dan kepadatan penduduk setempat, bukan dari hitungan jenazah aktual. Untuk gempa M7,5 ini, PAGER memberi peluang 44 persen bahwa korban tewas berada di rentang 10.000-100.000 jiwa, dengan peluang 23 persen melampaui angka tersebut. Angka "100.000" yang beredar luas di berbagai judul berita adalah batas atas proyeksi probabilistik itu, bukan konfirmasi korban.

Dua kondisi memperberat kerusakan. Sekitar 80 persen penduduk Venezuela tinggal di zona rawan gempa, banyak di hunian yang dibangun tanpa standar ketahanan seismik. Caracas sendiri berdiri di atas cekungan sedimen dalam yang memperkuat gelombang seismik, sehingga intensitas guncangan di permukaan lebih tinggi dibanding yang terjadi di atas batuan keras. Di atas itu, M7,5 yang melepas energi sekitar 2,8 kali lipat dibanding M7,2 menerpa bangunan-bangunan yang sudah retak dan melemah dalam 39 detik sebelumnya, sebelum sempat ada upaya penopangan apapun.

"We have more than 50,000 people missing, more than 500 people dead, so large work to sift through rubble," kata Tom Fletcher, Wakil Sekretaris Jenderal PBB urusan kemanusiaan, saat situasi masih berkembang.

Sedikitnya 19 warga asing tewas: 9 berkewarganegaraan Portugal, 5 Spanyol, 2 Brasil, 2 China, dan 1 Italia-Venezuela. Ratusan warga Portugal dan Spanyol masih dicari, gambaran konkret sulitnya pendataan korban lintas negara.

Sesar San Sebastián dan kemiripannya dengan San Andreas

Gempa terjadi pada sistem Sesar San Sebastián, batas geser-mendatar (strike-slip) antara Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan yang bergerak sekitar 20 milimeter per tahun. Sylvain Barbot, profesor ilmu kebumian di USC Dornsife, menjelaskan kemiripannya dengan Sesar San Andreas di California:

"The faults involved in Venezuela's earthquake and California's San Andreas are very similar. They are known as transform faults, where this strike-slip motion happens as plates slide horizontally past each other."

Lucy Jones, seismolog AS, menguatkan pandangan itu: "What happened in Venezuela was movement on their plate boundary strike-slip fault... that's what the San Andreas is."

Kemiripan itu kini menjadi perhatian ilmuwan AS karena segmen selatan San Andreas disebut berada pada tingkat tegangan tertinggi dalam setidaknya 1.000 tahun, dengan laju pergerakan sekitar 30 milimeter per tahun mendekati Sesar San Sebastián. Venezuela menjadi studi kasus konkret tentang apa yang bisa terjadi ketika tegangan serupa dilepaskan. Spekulasi bahwa gempa Venezuela berkaitan sebab-akibat dengan gempa besar lain di kawasan berbeda dalam periode berdekatan ditolak para ahli: peristiwa-peristiwa itu terjadi pada lempeng yang berbeda.

Barbot memperingatkan bahwa risiko tidak berakhir bersama guncangan: periode berbulan-bulan hingga bertahun setelah gempa berisiko memicu longsor saat musim hujan tiba.

Apa artinya bagi Indonesia?

Mekanisme gempa Venezuela berbeda dari ancaman utama Indonesia. Sesar San Sebastián adalah batas geser mendatar; ancaman terbesar Indonesia datang dari subduksi megathrust di 14 zona yang mengepung Nusantara, dengan potensi magnitudo 8,0-9,0 disertai tsunami. Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2024 mendokumentasikan seluruh rangkaian itu.

Namun pola kerentanan bangunan keduanya serupa. Hanya pada Juni 2026, Indonesia sudah menghadapi gempa M6,7 di Palu (Sesar Sausu, 16 Juni) dan M7,7 di Laut Sulawesi yang memicu tsunami di Sangihe. Ahli teknik sipil menilai perbedaan skala bencana antara Venezuela dan Jepang, yang menghadapi gempa setara dengan korban jauh lebih sedikit, menegaskan bahwa kualitas konstruksi dan kapasitas mitigasi lebih menentukan jumlah korban dibanding magnitudonya sendiri.

Jakarta berdiri di atas cekungan sedimen tebal yang secara geofisika mirip Caracas: keduanya memperkuat gelombang seismik. Selisih antara laporan "50.000 lebih hilang" dengan angka resmi pemerintah Venezuela yang jauh lebih rendah akan menyatu ketika pendataan reruntuhan tuntas, dan hasilnya akan menjadi penguji seberapa akurat proyeksi PAGER dalam kondisi nyata di lapangan.