Sejak 24 Juni 2026, Prancis mencatat lonjakan sekitar 1.000 kematian akibat gelombang panas yang melanda negeri itu hampir dua pekan. Santé publique France (SPF), badan kesehatan masyarakat resmi, merilis angka itu sebagai penghitungan pertama dari otoritas Prancis sendiri. Data tersebut bersifat sementara: SPF menyebut angka belum dikonsolidasi karena surveilans nasional baru menangkap sekitar 60 persen dari seluruh kematian yang terjadi.
Sebelum rilis ini, satu-satunya estimasi resmi berasal dari WHO, yang mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih di seluruh Eropa sejak 21 Juni, dengan Prancis sebagai penyumbang terbesar. Gelombang panas Eropa tewaskan 1.300 orang dalam sepekan itu, termasuk rekor suhu di Jerman dan Ceko. Rilis SPF memberi angka Prancis secara spesifik untuk pertama kalinya, sekaligus memperlihatkan batas sistem yang justru dibangun khusus setelah tragedi 2003 untuk mencegah krisis seperti ini terulang.
Lonjakan terlihat jelas pada data kematian harian: lebih dari 1.200 kematian pada 24 Juni, naik ke lebih dari 1.400 pada masing-masing 25 dan 26 Juni. Rata-rata kematian harian April-Mei hanya berkisar 900-1.000.
Mengapa 1.000 kematian itu masih akan bertambah?
Angka sementara SPF hampir pasti bertambah. Kematian berlebih, atau surmortalitas, adalah selisih antara kematian aktual dan rata-rata periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Sistem SPF menghitungnya dengan mengandalkan sertifikat kematian elektronik yang baru mencakup 60 persen kematian nasional. Sertifikat sisanya masuk ke sistem bertahap selama pekan-pekan berikutnya.
SPF merangkum posisi datanya dalam pernyataan resmi: "Depuis le 24 juin, environ 1000 décès supplémentaires... ont été observés par rapport aux décès observés les mois précédents" ("Sejak 24 Juni, sekitar 1.000 kematian tambahan... teramati dibandingkan kematian pada bulan-bulan sebelumnya"), dengan catatan angka belum dikonsolidasi.
Menteri Kesehatan Stéphanie Rist menyebut faktor kedua: efek panas bersifat tertunda. Sebagian korban, termasuk beberapa orang muda, baru tiba di unit gawat darurat lima hingga sepuluh hari setelah suhu mereda. Penderita penyakit kronis bisa merasakan dampaknya berminggu-minggu kemudian. Artinya, korban terus bertambah meski suhu Prancis sudah kembali normal.
Mengapa kematian di rumah melonjak 40 persen?
Data SPF mencatat kenaikan 40 persen kematian di rumah dibanding rata-rata biasa, terkonsentrasi di Île-de-France. Sebanyak 85 persen korban berusia 65 tahun ke atas, dan sebagian besar tinggal sendiri. Penyebabnya struktural: hanya sekitar 24 persen rumah tangga Prancis memiliki pendingin ruangan, dengan sebaran yang jauh dari merata. Wilayah Mediterania jauh lebih siap ketimbang barat dan utara.
Lansia di apartemen tanpa pendingin di kota-kota barat dan utara menjadi kelompok paling terpapar, di ruang yang paling sulit dijangkau petugas kesehatan maupun tetangga.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menggambarkan kerentanan ini: "Heat stress is often called the 'silent killer' — and European homes, workplaces and schools were not built for these temperatures." ("Tekanan panas kerap disebut 'pembunuh senyap', dan rumah, tempat kerja, serta sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu setinggi ini.")
Pada puncaknya, siaga merah menutupi 72 departemen (sekitar 75% wilayah Prancis). Stasiun Pissos di Landes mencatat 44,3°C pada 23 Juni, dan 23–24 Juni tercatat sebagai hari terpanas dalam sejarah pengukuran Prancis: untuk pertama kalinya, rata-rata suhu nasional selama 24 jam melewati 30°C.
Apa artinya bagi Indonesia?
Indonesia belum memiliki sistem pengukur surmortalitas. Tanpa pencatatan sistematis yang membandingkan kematian aktual terhadap baseline historis, kematian akibat panas tidak pernah masuk hitungan resmi karena tidak ada angka pembanding yang dikelola secara konsisten.
Prancis membangun sistem surveilans kematian hariannya setelah gelombang panas 2003, yang menewaskan hampir 15.000 orang dan menjadi titik balik kebijakan kesehatan panas negara itu. Sistem berjenjang yang dibangun sejak saat itu memungkinkan SPF merilis estimasi dalam hitungan hari, meski dengan cakupan 60 persen. Bahwa Prancis dengan sistem tersebut pun mengakui datanya belum lengkap memberi gambaran seberapa jauh jarak yang harus ditempuh negara-negara tanpa sistem serupa.
Tedros mengingatkan konteks iklim di balik frekuensi kejadian semacam ini: "Europe is the fastest-warming continent on Earth, heating at twice the global average." ("Eropa adalah benua yang paling cepat memanas di Bumi, memanas dua kali lipat rata-rata global.")
Angka WHO untuk seluruh Eropa, lebih dari 1.300 kematian berlebih sejak 21 Juni, diperkirakan direvisi setelah data Jerman, Italia, dan Spanyol dikonsolidasi. Revisi angka SPF sendiri dijadwalkan dalam beberapa pekan mendatang.



