Sampai Senin (29/6/2026), korban tewas akibat gempa kembar yang mengguncang Venezuela utara pada 24 Juni 2026 telah mencapai 1.719 jiwa dan 5.034 orang luka-luka. Angka tersebut naik dari 1.430 jiwa yang dilaporkan dua hari sebelumnya. Sementara 46.600 orang masih dinyatakan hilang, sekitar 27 kali lipat jumlah korban terkonfirmasi. Dengan keadaan ini kemungkinan angka kematian akhir masih akan bergerak jauh.

Tim penyelamat tetap beroperasi meski masa tanggap darurat yaitu 72 jam pertama setelah bencana telah terlewati sejak Sabtu malam (27/6). Sepanjang akhir pekan, sedikitnya 33 orang ditarik hidup dari reruntuhan, termasuk seorang perempuan berusia 60 tahun yang bertahan 86 jam di kawasan Caraballeda, La Guaira.

"Hari ini kami berhasil menyelamatkan orang dalam keadaan hidup, karena itu operasi tidak dihentikan. Kami selalu memelihara harapan," kata Delcy Rodriguez, Presiden interim Venezuela.

Mengapa operasi tidak dihentikan setelah 72 jam?

Masa tanggap darurat 72 jam adalah ambang batas medis, di luar periode itu, peluang bertahan bagi korban yang terjebak tanpa air dan dengan luka berat menurun tajam. Namun data lapangan di Venezuela membuktikan pengecualian nyata. Tujuh orang diselamatkan dalam satu hari saja, dan kasus perempuan 60 tahun di Caraballeda memperpanjang harapan itu ke jam ke-86. Selama penyelamatan nyata terus berlangsung, otoritas memilih menunda transisi dari pencarian korban hidup ke pemulihan jenazah.

Operasi itu lalu menghadapi komplikasi baru pada 29 Juni, guncangan M4,6 berkedalaman 10 km menghantam utara Caraballeda saat tim penyelamat masih bekerja. Warga kembali berhamburan ke jalanan. "Kami kembali lagi ke sini, kembali ke jalanan. Saya tidak tahu kapan kami akan benar-benar merasa tenang," kata Concepcion Hernandez (51 tahun) kepada Al Jazeera.

Dua gempa, 39 detik

Gempa pertama berkekuatan M7,2 mengguncang pada pukul 18.04 waktu lokal tanggal 24 Juni, bersumber di San Felipe, Negara Bagian Yaracuy, kedalaman 21,9 km. Tepat 39 detik kemudian, guncangan kedua berkekuatan M7,5 di kedalaman 10 km menyusul. Keduanya bertipe strike-slip, pergerakan horizontal dua lempeng bumi sepanjang sesar.

Jeda 39 detik itu yang membuat banyak bangunan langsung runtuh: guncangan pertama meretakkan struktur, dan guncangan kedua tiba sebelum penghuni sempat keluar.

La Guaira, kawasan pesisir padat yang menjadi pintu masuk pelabuhan dan bandara utama menuju Caracas, menanggung kerusakan terberat: lebih dari 1.400 bangunan rusak. Dua lingkungan di sana, Caraballeda dan Catia la Mar, memiliki lebih dari separuh bangunan dengan probabilitas kerusakan minimal 75 persen. Secara nasional, hampir 800 bangunan ambruk, 189 di antaranya runtuh total.

46.600 orang masih belum terhitung

Angka yang paling mengkhawatirkan bukan 1.719, melainkan 46.600: jumlah warga yang masih dinyatakan hilang, sekitar 27 kali lipat korban terkonfirmasi. Tidak semua yang hilang tentu tewas, namun selisih sebesar itu mencerminkan betapa luas area reruntuhan yang belum terjangkau tim SAR.

UNDP memperkirakan kerugian ekonomi mencapai US$6,7 miliar, setara enam persen PDB Venezuela. "Kecepatan dan akurasi penilaian awal sangat penting untuk respons yang efektif," kata Luis Francisco Thais, Perwakilan Tetap UNDP di Venezuela. Jumlah warga yang kehilangan tempat tinggal sudah naik dari 12.721 menjadi 15.866 orang, dan lebih dari 8,6 juta orang terpapar guncangan sedang hingga kuat.

Bantuan AS di tengah tegangan diplomatik

Sekitar 2.700 tenaga ahli dari 24 negara bergabung, terdiri dari 44 tim USAR, 140 anjing pelacak, dan lebih dari 500 ton pasokan. Di dalam negeri, Venezuela mengerahkan sekitar 30.000 petugas darurat. "Penyelamatan ini dimungkinkan berkat kerja sama tim penyelamat dari Venezuela, Meksiko, dan El Salvador," tulis Presiden El Salvador Nayib Bukele di media sosialnya.

Salah satu kontribusi terbesar secara finansial datang dari Amerika Serikat, yang memobilisasi bantuan senilai US$150 juta melalui berbagai kanal. AS dan Venezuela sudah lama bersitegang secara diplomatik, sehingga komitmen Washington itu menonjol sebagai langkah yang melampaui pola hubungan biasa antara dua negara ini. Seberapa cepat bantuan tersalur dan kapan angka kematian mencapai puncaknya bergantung pada dua hal: keputusan otoritas Venezuela tentang kapan menghentikan pencarian korban hidup, dan ada tidaknya gempa susulan berikutnya yang mengubah perhitungan di lapangan.