Lebih dari 1.300 orang meninggal akibat gelombang panas di Eropa dalam waktu sepekan, angka yang diumumkan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada 28 Juni 2026. Hitungan dimulai sejak 21 Juni, saat panas mulai memuncak di Eropa Barat, dan WHO mengklasifikasikannya sebagai "kematian berlebih": selisih antara kematian yang tercatat dengan rata-rata kematian pada periode normal.

Tedros mengakui angka itu sebagai estimasi awal. Data historis gelombang panas besar Eropa, termasuk 2003 dan 2022, menunjukkan total resmi konsisten bergerak naik saat audit lengkap pekan-pekan berikutnya masuk.

Mengapa kematian akibat panas sulit terhitung?

Kematian berlebih (excess deaths) adalah selisih antara angka kematian aktual dan rata-rata historis periode yang sama. Gelombang panas jarang muncul sebagai penyebab kematian langsung di sertifikat medis; korban umumnya tercatat meninggal karena serangan jantung, gagal ginjal, atau gangguan pernapasan yang dipicu suhu tinggi. "Heatwaves pose serious health dangers, primarily by causing heat stress, which occurs when the body struggles to regulate its temperature," kata Garyfallos Konstantinoudis, dosen di Grantham Institute (Climate Change and the Environment).

Polanya terlihat dari angka kematian di dalam ruangan: lonjakan signifikan warga Prancis yang meninggal di kediaman sendiri selama puncak panas. Mereka tidak berjatuhan di jalanan; mereka meninggal di apartemen tanpa pendingin udara, tanpa pernah terhitung sebagai korban gelombang panas.

Tiga perempat korban berasal dari satu negara

Distribusi 1.300 kematian itu tidak merata. Prancis sendiri mencatat sekitar 1.000 kematian berlebih sejak 24 Juni menurut Santé publique France, badan kesehatan publik negara itu, dengan 85 persen korban berusia di atas 65 tahun. Spanyol mencatat 174 kematian berlebih terverifikasi, ditambah lebih dari 400 kematian yang kemungkinan terkait suhu pada 26-29 Juni. Jerman, yang menyentuh rekor nasional sementara 41,3°C di dekat Saarbrücken pada 27 Juni, melaporkan sedikitnya tujuh kematian langsung. Inggris memecahkan rekor Juni dengan suhu di atas 37°C di Suffolk; Prancis mencatat hari Juni terpanas dalam sejarahnya hingga 43,3°C; Brussels menyentuh 37°C pada 26 Juni.

Konsentrasi korban di Prancis didorong dua faktor: Santé publique France mengoperasikan sistem pemantauan kematian berlebih real-time paling matang di Eropa, sehingga datanya tersedia lebih cepat dari negara lain; dan Prancis menghadapi suhu tertinggi paling awal.

Di luar kematian langsung akibat panas, Prancis juga mencatat sekitar 40-48 orang tewas tenggelam saat mencoba mendinginkan diri.

Gedung dan jaringan yang tidak dirancang untuk panas

"European homes, workplaces and schools were not built for these temperatures," tulis Tedros. Pernyataan itu menjelaskan secara teknis mengapa kematian terkonsentrasi di dalam ruangan. Eropa membangun hunian dan gedungnya untuk menahan panas di musim dingin; ketika suhu menyentuh 40°C lebih, bangunan yang sama berubah menjadi perangkap panas.

Jaringan listrik dan transportasi ikut terdampak. Di Finistère, Prancis, lebih dari 106.000 pelanggan sempat kehilangan listrik akibat trafo kelebihan beban pada malam 23 Juni, turun menjadi sekitar 68.000 pada keesokan harinya. Layanan kereta di Paris dan Brussels dikurangi untuk mencegah rel melengkung. Paris menutup Menara Eiffel dan Louvre lebih awal, melarang konsumsi alkohol di ruang publik, dan menunda Pride March. Dari 96 departemen daratan Prancis, 49 berada di peringatan panas tertinggi; ratusan sekolah tutup atau memangkas jam belajar.

Tedros mencatat sekitar 150 juta orang hidup di bawah kondisi panas ekstrem saat pengumuman dibuat. Proyeksi hari Minggu menempatkan 191 juta orang di bawah suhu minimum 35°C, terkonsentrasi di Jerman, Ceko, Hungaria, dan Polandia.

Dari "sekali dalam 300 tahun" ke lebih dari sekali per dekade

Gelombang panas ini dipicu kubah panas yang menyedot udara dari Sahara ke Eropa Barat dan Tengah sejak sekitar 20 Juni. Frekuensinya sudah berubah secara struktural.

"Heatwaves like we are seeing now are about 30 times more likely to happen than in the pre-climate change era," kata Laurie Parsons, peneliti di Royal Holloway, University of London. Parsons memperinci lebih lanjut: probabilitas peristiwa sekuat ini, yang dulu berstatus sekali per 300 tahun, kini lebih dari sekali per dekade. Tedros menambahkan bahwa peristiwa "sekali dalam satu generasi" kini terjadi hampir tiap tahun: "Driven by climate change and global warming, the phenomenon of the 'once-in-a-generation' heatwave is now occurring nearly annual."

Eropa memanas dua kali lipat rata-rata global, menjadikannya benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Puncak panas kini bergeser ke timur; data kematian berlebih dari Jerman, Ceko, Hungaria, dan Polandia akan memberi gambaran lengkap seberapa jauh gelombang ini menyebar.

Apa artinya bagi Indonesia

Indonesia beriklim tropis: suhu 38-40°C selama kemarau bukan hal luar biasa di kota pesisir dan dataran rendah. Namun Indonesia tidak memiliki sistem pemantauan kematian berlebih akibat panas seperti Santé publique France. Kematian yang dipicu stres panas di Jakarta atau Surabaya kemungkinan besar masuk ke statistik serangan jantung atau gagal ginjal tanpa atribusi suhu.

Faktor risikonya terdokumentasi terpisah: populasi yang menua, kepadatan kota, dan efek pulau panas perkotaan (urban heat island) yang tumbuh seiring ekspansi aspal. Faktor-faktor itu bertemu dengan fase kering El Nino 2026 yang sedang berlangsung di Asia Tenggara, mendorong suhu dan tekanan ketersediaan air lebih tinggi dari rata-rata. Pada pekan yang sama gelombang panas ini memuncak, gempa kembar di Venezuela menewaskan lebih dari 1.400 jiwa — dua bencana skala besar yang berdempetan dalam kalender Juni 2026.

WHO mendesak investasi pada sistem kesehatan tahan iklim. Bagi Indonesia, langkah paling konkret adalah memiliki mekanisme yang dapat mendeteksi kematian terkait panas sebelum angkanya terus lolos tanpa hitung.