Kalasuara - Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengonfirmasi serangan udara baru ke sejumlah sasaran di Iran pada Sabtu malam, dimulai pukul 18.00 waktu setempat atas instruksi langsung Presiden Donald Trump. Serangan itu menyusul pengumuman Washington bahwa dua personel militer AS tewas dan satu lainnya hilang di Yordania akibat serangan yang dilancarkan Iran. Sebelum gempuran ini meletus, Pemimpin Tertinggi Iran sudah memperingatkan bahwa Washington akan menanggung akibat besar jika sengaja memperluas konflik.

Centcom adalah komando militer AS yang membawahi operasi di Timur Tengah, Asia Tengah, dan sebagian Asia Selatan, termasuk seluruh kampanye udara terhadap Iran sejak konflik ini pecah kembali. Korban jiwa personel AS di Yordania menaikkan taruhan konflik dari serangan udara jarak jauh menjadi kontak langsung yang menewaskan warga negara AS, pemicu yang secara historis mendorong eskalasi lebih tajam.

Kenapa AS menyerang Iran lagi?

AS melancarkan gempuran Sabtu karena dua personel militernya tewas dan satu hilang di Yordania akibat serangan Iran. Trump memerintahkan langsung balasan udara begitu insiden itu dikonfirmasi, menjadikan kematian tentara AS sebagai pemicu langsung, bukan hanya kelanjutan rutin dari kampanye udara yang sudah berjalan berminggu-minggu.

Pola pembalasan seperti ini bukan hal baru bagi Trump. Di atas pesawat Air Force One pada 8 Juli, merujuk serangan malam sebelumnya, ia berkata, "We just hit him very hard, and I'd say we hit them 20 to one... and we did it last night, did a little something today, but it was really retribution for last night." Adapun soal tenggat waktu bagi Iran, dalam forum Pennsylvania Defense and Innovation Summit pada 15 Juli, saat ditanya wartawan, ia menjawab, "Saya tidak suka memberikan tenggat waktu, tetapi mereka pada dasarnya tahu, mereka tahu apa situasinya... mereka sebaiknya bersikap baik."

Iran balas ke pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain

Angkatan Laut dan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menembakkan rudal dan drone ke pangkalan AS Arifjan dan Ali Al Salem di Kuwait, serta Jufair dan Sheikh Isa di Bahrain. Militer Kuwait mengonfirmasi serangan tersebut dan mencatat satu warganya terluka akibat serpihan rudal yang berhasil dicegat. Iran juga dilaporkan memperluas jangkauan drone dan rudalnya ke fasilitas penunjang militer AS di Qatar dan Yordania.

Trump menyebut Iran sesungguhnya tertekan oleh rentetan serangan ini. "Mereka tidak senang saat ini... Mereka sangat ingin mencapai penyelesaian. Mereka tidak menyukai apa yang kami lakukan," katanya. Di sisi lain, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan Teheran tak punya alasan mematuhi kesepakatan gencatan senjata bila tidak memperoleh manfaat darinya.

Korban sipil Iran dan blokade yang diberlakukan ulang

Gempuran Sabtu bukan babak pertama pekan ini. Rabu malam, militer AS sudah melancarkan operasi 90 menit menyasar sistem pertahanan pantai Iran serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di Pulau Tunb Besar, ditujukan melemahkan kemampuan Iran mengancam kapal di Selat Hormuz. Dua hari berikutnya, serangan AS di lima provinsi Iran, termasuk Bandar Abbas, area pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, dan zona petrokimia Asaluyeh, menewaskan sedikitnya 38 orang dan melukai lebih dari 400 lainnya menurut Kementerian Kesehatan Iran. Sejumlah kapal sipil dilaporkan terkena dampak di Asaluyeh, meski jumlah pastinya belum terverifikasi.

Centcom juga memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak Selasa malam, setelah sebelumnya dicabut sebagai bagian kesepakatan bulan lalu, dan sudah mengalihkan dua kapal komersial sejak blokade berlaku. Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, sebelumnya memperingatkan soal ancaman serupa. "Menurut hukum internasional, menyerang warga sipil dan infrastruktur sipil secara sengaja merupakan kejahatan perang," katanya, menanggapi ancaman Trump membombardir infrastruktur sipil Iran pada April lalu.

Eskalasi ini terjadi di tengah masa transisi kepemimpinan Iran. Negeri itu baru saja memakamkan Ali Khamenei 131 hari setelah kematiannya, dan Pemimpin Tertinggi barunya belum banyak tampil di depan publik sejak naik menggantikannya.

Dampak bagi tanker Pertamina dan jalur minyak dunia

Setiap putaran baru serangan di Selat Hormuz berisiko mengguncang kembali harga minyak dunia setelah Brent sempat anjlok 38 persen pada kuartal kedua 2026, angka yang menopang asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN. Jalur ini masih dilalui kapal tanker Pertamina, termasuk VLCC Pertamina Pride yang sempat tertahan berbulan-bulan sebelum akhirnya menyusul Gamsunoro melintas kawasan itu.

Konflik kini bergerak dari serangan yang menyasar kemampuan militer maritim Iran, seperti dalam baku tembak Iran-AS di Selat Hormuz sebelumnya, menjadi bentrokan langsung yang menelan korban jiwa personel AS. Pergeseran ini sejalan dengan sorotan atas pivot AS ke Iran dan Teluk sebagai medan utama kebijakan luar negeri Washington belakangan ini.