Kalasuara - Bentrokan antar-desa yang dipicu sengketa lahan ulayat pecah kembali di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (18/7/2026) pagi. Baku tembak senjata api rakitan disertai ledakan bom rakitan pecah di perbatasan Desa Narasaosina dan Desa Waiburak, menewaskan tiga orang akibat luka tembak dan membakar sedikitnya 20 rumah, kios, serta sebuah apotek warga.
Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra mengonfirmasi tiga korban tewas, seluruhnya laki-laki: dua warga Desa Narasaosina dan satu warga Desa Waiburak, berusia 21 dan 60 tahun. Empat orang lain terluka dan seluruhnya dirujuk untuk perawatan intensif: satu warga Desa Narasaosina ke RSUD Larantuka, sementara tiga warga Dusun Bele dievakuasi ke dua rumah sakit berbeda, dua ke RSUD Lewoleba di Lembata dan satu ke RSUD Larantuka.
Sengketa lahan ulayat adalah pertikaian batas tanah adat antarwarga desa yang di Adonara Timur sudah berulang kali memicu bentrokan dalam setahun terakhir. Kali ini pertikaian itu disertai baku tembak dengan senjata api rakitan yang merenggut nyawa tiga warga, serta ledakan bom rakitan yang turut menyulut kobaran api di permukiman. Warga sekitar mendengar ledakan keras beberapa kali sebelum api membesar di permukiman, lalu menyelamatkan diri ke arah perkebunan. Jalan Trans Adonara, satu-satunya akses di kawasan itu, lumpuh total karena dijadikan medan bentrokan.
Mengapa bentrokan pecah lagi setelah senjata rakitan dimusnahkan?
Bentrokan 18 Juli meletus belum genap sebulan setelah aparat keamanan memusnahkan ratusan senjata api rakitan milik warga Adonara Timur awal Juli 2026 sebagai simbol perdamaian antar-desa. Pemusnahan itu ternyata tidak menjangkau seluruh senjata yang beredar di akar rumput: senjata api dan bom rakitan tetap dipakai dan kini menyebabkan korban jiwa terbanyak dalam rangkaian konflik Narasaosina-Waiburak sejauh ini.
Sengketa ini juga bukan kejadian pertama tahun ini. Pada Mei 2026, konflik susulan sempat pecah antara Dusun Bele, bagian dari Desa Waiburak, dan Dusun Lewonara, dipicu tudingan penyembunyian bom rakitan di dekat pos pengamanan aparat. Pola pemicu yang nyaris sama muncul lagi pada bentrokan 18 Juli ini.
Korban bertambah drastis saat laporan pertama diperbarui
Angka korban berubah cepat dalam hitungan jam pada Sabtu pagi itu. Kepala Puskesmas Ile Boleng, Stefanus Ola Bura, awalnya melaporkan satu orang tewas dan tiga perempuan luka serius yang menjalani perawatan intensif. "Ada empat pasien yang masuk ke kami. Satu dinyatakan meninggal dunia, sementara tiga lainnya yang merupakan perempuan masih dirawat. Kondisinya kemungkinan akan kami rujuk karena luka yang cukup serius," katanya. Laporan awal pagi itu turut mencatat 12 rumah terbakar.
Begitu Kapolres Adhitya memberi keterangan resmi pada siang hari, jumlah korban tewas naik jadi tiga orang dan korban luka menjadi empat, sementara rumah yang ludes terbakar bertambah jadi 20 unit. "Tiga korban meninggal dunia akibat bentrokan semuanya laki-laki," kata Adhitya. Selisih angka itu terjadi karena situasi lapangan masih berkembang cepat saat laporan pertama ditulis, beberapa jam sebelum keterangan resmi kedua turun.
Personel gabungan dikerahkan, mediasi lanjutan masih ditunggu
Polres Flores Timur mengerahkan ratusan personel polisi dibantu TNI untuk mengamankan wilayah dan mencegah bentrokan susulan. "Situasi sudah kondusif, tapi personil masih di lokasi (bentrokan) untuk antisipasi susulan," kata Adhitya. Kasi Humas Polres Flores Timur AKP Eliezer A. Kalelado mengimbau warga tetap tenang, mempercayakan penanganan kepada kepolisian, dan menjaga persaudaraan demi Flores Timur yang aman dan kondusif.
Polisi masih mendalami pemicu spesifik bentrokan 18 Juli serta asal senjata api dan bom rakitan yang dipakai, sementara empat korban luka yang dirujuk ke Larantuka dan Lembata masih menjalani perawatan. Puluhan keluarga yang kehilangan rumah, kios, dan apotek kini bergantung pada langkah darurat pemerintah kabupaten, termasuk kemungkinan bantuan tempat tinggal sementara.




Komentar