Kalasuara - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei "90 persen sudah tiada" dalam wawancara dengan Fox News pada 14 Juli 2026. Pada hari yang sama, Iran menembakkan rudal dan drone ke kapal Angkatan Laut Kuwait serta dua tanker Uni Emirat Arab di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak dan gas tersibuk di dunia. Harga minyak Brent melonjak 13 persen dalam empat hari perdagangan menyusul rentetan serangan itu.
Trump menyampaikan klaimnya sebagai bukti kemenangan atas Iran, menyebut seluruh kekuatan militer negara itu telah hancur akibat serangan gabungan AS-Israel. "Mereka (Iran) tidak memiliki Angkatan Laut. Mereka tidak memiliki Angkatan Udara. Semuanya sudah lenyap," katanya. Namun jam-jam berikutnya membuktikan sebaliknya: rudal dan drone Iran menghantam kapal Angkatan Laut Kuwait, tiga pos perbatasan, dan anjungan minyak lepas pantai Kuwait Oil Company, melukai empat anggota militer negara itu.
Mengapa Trump yakin Mojtaba Khamenei tewas?
Trump mendasarkan klaimnya pada serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Ali Khamenei, ayah Mojtaba, dan pada ketidakhadiran Mojtaba di depan publik sejak ditunjuk sebagai pengganti awal Maret. Ia belum pernah tampil sejak peristiwa itu, termasuk absen dari pemakaman ayahnya yang berlangsung 4-9 Juli dengan jutaan pelayat di Teheran. Absensi itulah yang tampak jadi dasar spekulasi Trump, bukan bukti kematian yang diverifikasi pihak independen.
Klaim tersebut tidak dikonfirmasi siapa pun selain Trump sendiri. Empat hari sebelumnya, Iran justru merilis pernyataan tertulis atas nama Mojtaba yang menegaskan pembalasan atas kematian ayahnya adalah kehendak bangsa Iran dan harus dijalankan. Pernyataan itu bertentangan langsung dengan narasi Trump, dan Iran hingga kini belum membantah atau mengonfirmasi klaim "90 persen tiada" itu. Peristiwa jutaan pelayat di Teheran, di mana Mojtaba absen dari prosesi, menjadi satu-satunya petunjuk publik soal keberadaannya sejauh ini.
Serangan berlanjut ke Kuwait dan tanker UEA
Kolonel Saud Abdulaziz Al-Atwan, juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, mengonfirmasi salah satu kapal Angkatan Laut negaranya menjadi sasaran serangan Iran. "Salah satu kapal angkatan laut milik Angkatan Laut Kuwait juga menjadi sasaran, mengakibatkan cedera pada empat anggota angkatan bersenjata," katanya. Pada waktu yang berdekatan, Iran juga menyerang dua kapal tanker Uni Emirat Arab di perairan Oman, sisi selatan Selat Hormuz, menewaskan satu awak berkewarganegaraan India dan melukai delapan orang lain.
Rentetan serangan ini berlangsung persis saat Trump mengklaim kemenangan penuh, dan menunjukkan Iran masih punya kapasitas menyerang di laut, bertentangan dengan gambaran militer yang "lenyap total". Trump menambah ketegangan dengan mengumumkan lewat Truth Social rencana tarif 20 persen atas seluruh kargo komersial yang melintasi Selat Hormuz, disebutnya sebagai kompensasi pengamanan AS. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi langsung menolak usul itu. "Tentu saja 20 persen terlalu besar. Kami akan bersikap adil," katanya. Rencana tarif itu juga memicu keberatan dari Organisasi Maritim Internasional PBB, yang menilainya tak berdasar hukum atas hak lintas pelayaran internasional, mirip ketegangan yang muncul dalam episode sebelumnya saat Iran mengumumkan Hormuz ditutup meski 55 kapal tetap melintas.
Berapa besar dampaknya ke harga minyak dunia?
Harga minyak Brent naik dari US$76,01 per barel pada 10 Juli menjadi US$86,19 pada 14 Juli, kenaikan sekitar 13 persen hanya dalam empat hari perdagangan. WTI ikut naik ke US$79,67 per barel pada periode yang sama. Lonjakan ini membalikkan tren harga minyak yang sempat anjlok tajam pada kuartal kedua 2026, dan menghidupkan kembali risiko tekanan biaya energi bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia yang jalur tankernya turut melintasi kawasan Teluk.
Survei Reuters/Ipsos yang rampung 12 Juli 2026 menunjukkan 79 persen warga AS memperkirakan perang dengan Iran akan berlarut-larut, naik dari 65 persen pada akhir Maret. Hanya 18 persen yang memperkirakan konflik usai dalam hitungan minggu, sementara 37 persen mendukung serangan militer AS ke Iran. Angka-angka itu menggambarkan publik Amerika sendiri kian skeptis terhadap narasi kemenangan cepat yang disampaikan Trump, kontras dengan pivot kebijakannya ke kawasan Teluk yang dibahas dalam laporan AS pivot ke Iran-Teluk, Israel tersisih di balik keretakan Trump.
Pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi klaim kematian Mojtaba Khamenei. Implementasi tarif 20 persen di Selat Hormuz dan respons resmi IMO juga masih ditunggu, sementara pergerakan harga minyak lanjutan akan menentukan tekanan pada asumsi APBN dan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.




Komentar