Kalasuara - Garda Revolusi Iran (IRGC) menutup Selat Hormuz mulai Minggu dini hari, 12 Juli 2026, setelah kapal kontainer berbendera Siprus MV GFS Galaxy mengalami kebakaran di perairan sekitar 16,7 kilometer di timur Oman. Ini penutupan keempat sejak perang Amerika Serikat-Israel-Iran meletus 28 Februari, dan datang hanya beberapa jam sebelum Komando Pusat AS (CENTCOM) melancarkan serangan ke 140 sasaran militer Iran sebagai balasan.

United Kingdom Maritime Trade Operations mencatat laporan insiden pukul 22.40 GMT pada 11 Juli, termasuk evakuasi awak kapal ke sekoci penyelamat. Kementerian Luar Negeri India mengonfirmasi 10 dari 11 warga negaranya di kapal itu selamat; satu orang masih dicari.

Dua versi yang saling bertolak belakang

IRGC, lewat kantor berita negara IRNA, menyebut insiden itu sebagai tembakan peringatan terhadap kapal yang mematikan sistem pelacakan dan berulang kali mengabaikan instruksi memakai koridor pelayaran yang disetujui. "Menyusul insiden ini, Selat Hormuz akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut dan sampai berakhirnya intervensi Amerika di wilayah ini. Tidak akan ada kapal yang diizinkan melintas," bunyi pernyataan resmi IRGC.

CENTCOM membantah versi itu. "Iran was provided yet another opportunity to demonstrate adherence to the Memorandum of Understanding after being held accountable for earlier attacks on commercial vessels but has again failed," tulis CENTCOM dalam pernyataannya, yang menyebut kejadian itu serangan langsung yang melumpuhkan kapal niaga, bukan tembakan peringatan.

Data Windward Maritime Intelligence menunjukkan efek penutupan itu di lapangan: hanya 21 kapal komersial melintasi Hormuz pada 11 Juli, jauh dari rata-rata 140 transit per hari sebelum krisis dimulai. Penurunan tujuh kali lipat itu terjadi meski Iran belum mengumumkan blokade fisik menyeluruh, tanda bahwa perusahaan pelayaran sudah menghindari selat itu atas inisiatif sendiri begitu risiko serangan naik.

Sebagai balasan atas insiden GFS Galaxy, CENTCOM meluncurkan gelombang serangan ketiganya dalam sepekan pada Minggu, menghantam sekitar 140 sasaran, termasuk baterai rudal, sistem pertahanan udara, kapal cepat IRGC, dan lokasi di sekitar Pulau Qeshm. Total sasaran yang dihantam sejak Senin tercatat lebih dari 300. "In response, the United States is imposing a high cost by continuing to degrade Iran's ability to attack civilian mariners," kata CENTCOM.

Mengapa penutupan Hormuz berdampak langsung ke Indonesia?

Selat Hormuz adalah jalur pelayaran sempit di antara Iran dan Oman yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia setiap hari, sehingga gangguan di titik ini langsung menaikkan harga energi global dan menekan pasokan minyak mentah yang dipakai kilang-kilang Indonesia. Harga minyak Brent naik ke US$78,85 per barel pada 13 Juli, melonjak 3,74 persen dari sehari sebelumnya, setelah sempat melandai ke US$72,51 pada akhir Juni.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyinggung risiko ini sehari sebelum insiden GFS Galaxy, dalam forum MKGR Golkar di Jakarta. "Ilmu sekolah enggak cukup. Tidak ada itu mata kuliah di energi kalau Selat Hormuz ditutup ambil minyak dari mana? Enggak ada. Itu butuh dinamika yang sangat luar biasa sekali," katanya, merujuk pengalaman tanker Pertamina yang sempat tertahan di Teluk Arab pada gelombang krisis sebelumnya, seperti diwartakan Kalasuara.

Kabar baiknya bagi pasokan dalam negeri, tanker Pertamina Pride yang membawa 2 juta barel minyak mentah untuk kilang Cilacap sudah melintasi Hormuz dengan selamat pada 8-9 Juli, sebelum penutupan terbaru ini berlaku, dan dijadwalkan tiba di Indonesia pada 23 Juli. Kapal-kapal Pertamina berikutnya yang belum sempat melintas kini menghadapi ketidakpastian yang sama seperti penutupan Hormuz sebelumnya, saat 55 kapal masih nekat melintas di tengah blokade yang diumumkan Iran.

Tenggat 17 Juli menambah tekanan waktu

Krisis ini berpacu dengan tenggat lisensi ekspor minyak Iran dari Departemen Keuangan AS yang jatuh tempo 17 Juli. Bila Washington tidak memperpanjangnya, pendapatan ekspor yang selama ini menjadi salah satu ruang tawar Iran dalam negosiasi bisa terputus, memperkecil insentif Teheran untuk kembali membuka jalur pelayaran.

Pola tarik-ulur ini bukan hal baru. Selat sempat dibuka kembali setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan normalisasi jalur pelayaran pada 17 April, tetapi Iran menutupnya lagi keesokan harinya setelah AS menolak mencabut blokade angkatan lautnya atas pelabuhan-pelabuhan Iran. Empat kali penutupan dalam kurun kurang dari empat bulan menunjukkan kedua pihak masih jauh dari kesepakatan yang bertahan.

Yang masih menggantung: nasib awak WN India yang hilang dari GFS Galaxy, arah gelombang serangan CENTCOM berikutnya, dan apakah lisensi ekspor minyak Iran diperpanjang sebelum 17 Juli. Ketiganya akan menentukan apakah harga Brent terus menanjak dari level saat ini, dan apakah kapal-kapal Pertamina yang belum melintas Hormuz harus menunggu lebih lama.