Senin pagi, 6 Juli 2026, peti jenazah Ali Khamenei mulai bergerak menyusuri jalan-jalan utama Teheran, dalam prosesi yang diperkirakan akan melibatkan 15 juta pelayat sepanjang enam hari. Dari seluruh wajah yang memadati bulevar ibu kota, ada satu wajah yang tidak nampak yaitu Mojtaba Khamenei, putra sekaligus penerus yang akan memegang jabatan pemimpin tertinggi Iran sejak Maret 2026.
Peti bergerak dari kompleks Grand Mosalla, tempat jenazah disemayamkan dua hari, dalam perjalanan sekitar 12 jam menuju Bandara Internasional Mehrabad. Kerumunan berpakaian hitam berdiri sepanjang rute, melambaikan bendera. Efigi Donald Trump digantung di sejumlah titik; poster Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu beredar dengan tulisan "There will be blood."
Kepala Angkatan Darat Iran Mayor Jenderal Amir Hatami berbicara kepada pelayat: "Those who committed this crime must know that the nation of Iran and all of us will never cease in our pursuit of and demand for justice." Di antara kerumunan, seorang pria 38 tahun mengatakan kepada AFP: "The killers [of Khamenei] must face punishment."
Lebih besar dari Khomeini 1989, lebih terkontrol
Pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada Juni 1989 tercatat dalam Guinness World Records, sekitar 10,2 juta pelayat, atau sekitar 16 persen populasi Iran saat itu. Prosesi berlangsung dua hari di dalam Iran, dan berakhir ricuh karena desakan massa memaksa peti diangkut helikopter.
Pemerintah Iran menyiapkan format berbeda untuk Khamenei: enam hari, dua negara. Setelah Teheran, prosesi bergerak ke Qom pada Selasa 7 Juli, kemudian ke Najaf dan Karbala di Irak pada Rabu 8 Juli, sebelum berakhir di Mashhad pada Kamis 9 Juli. Penundaan pemakaman 131 hari sejak kematian pada 28 Februari 2026, dengan alasan keamanan pascaperang, memberi waktu untuk menyiapkan logistik skala ini.
Khamenei tewas pada hari pembuka perang lima pekan antara Iran dan pasukan gabungan AS-Israel, dalam usia 86 tahun, setelah berkuasa hampir 37 tahun. Anggota keluarga yang disebut turut tewas dalam serangan yang sama meliputi putrinya, menantu laki-laki, menantu perempuan, dan cucu perempuan berusia 14 bulan.
Mengapa Mojtaba Khamenei tidak hadir di pemakaman ayahnya?
Reuters melaporkan Mojtaba mengalami luka serius dalam serangan 28 Februari yang menewaskan ayahnya. Wajahnya cacat dan satu atau kedua kakinya cedera berat. Sejak Majelis Ahli mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi baru pada Maret 2026, belum ada penampakan publik maupun citra resmi yang dikeluarkan Teheran.
Tiga putra Khamenei yang lain, Mostafa, Meysam, dan Masoud, berdoa di dekat peti pada Minggu 5 Juli. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf memuji "bangsa Islam Iran yang bangga dan tak terkalahkan" yang memberi penghormatan kepada sang "martir." Mojtaba tidak ada di antara mereka.
Selama beberapa dekade, para pejabat Iran menolak skenario pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak sebagai "dinasti." Ketika pewarisan itu akhirnya terjadi di tengah perang, pemimpin yang naik justru yang paling tak terlihat.
Prosesi ini dirancang sebagai pertunjukan kekuatan pascaperang: jutaan orang di jalanan Teheran untuk membuktikan Republik Islam tetap solid setelah pemimpinnya dibunuh dan ibu kotanya dibombardir. Kerumunan memberi bukti mobilisasi yang masih bisa dilakukan. Narasi yang dibangun berpusat pada kesyahidan Khamenei lama, bukan pada kehadiran penggantinya.
Bagi Indonesia, dua kanal langsung menghubungkan Teheran ke Jakarta: harga minyak yang bergerak mengikuti stabilitas kawasan Teluk, dan jalur perjalanan keagamaan jemaah yang melewati Irak, termasuk Najaf dan Karbala yang menjadi etape prosesi pekan ini. Selat Hormuz yang sempat dinyatakan ditutup Iran menjadi salah satu barometer ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.
Sebelum pemakaman puncak di Mashhad pada Kamis 9 Juli, satu pertanyaan masih menggantung. Apakah Mojtaba Khamenei akhirnya muncul.




Komentar