Kalasuara - Prambanan Jazz Festival edisi ke-12 pada Minggu, 5 Juli 2026 yang diselenggarakan di Pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta, ditutup dengan total sekitar 85.000 penonton dalam tiga hari. Panitia menyebut angka itu rekor tertinggi dalam 12 tahun penyelenggaraan festival.

Hari kedua penyelenggaraan menjadi titik puncak acara. Tiket pun habis terjual dengan sekitar 35.000 penonton menyaksikan NIKI menutup panggung utama sekitar pukul 22.30, tampil dengan format band. Sementara Michael Learns to Rock dan Xdinary Heroes mengisi hari pertama. The Rose menjadi penutup panggung utama di hari terakhir yang didahului oleh KLa Project, Tulus, Maliq & D'Essentials, Ari Lasso, Java Jive, Fariz RM, Rio Febrian, dan Jikustik.

"Prambanan Jazz Festival kami tempatkan ibarat sebagai rumah untuk pulang. Karena itulah, mari kita rayakan kepulangan ini dengan sebesar-besarnya," kata Anas Syahrul Alimi, CEO sekaligus pendiri Prambanan Jazz Festival.

Mengapa penonton justru tumbuh ketika porsi jazz dinaikkan?

Dengan menaikkan porsi musisi jazz ke sekitar 63 persen dari total pengisi, naik dari di bawah 50 persen pada edisi-edisi sebelumnya, festival ini mencatat kenaikan penonton sekitar 12 persen dari tahun lalu: dari 76.000 menjadi 85.000. Angka itu menantang anggapan yang kerap membentuk kurasi festival Indonesia, yaitu bahwa headliner pop internasional dan K-pop adalah syarat tiket cepat laku.

Edisi 2026 merespons kritik lama. Nama "jazz" pada judul festival kerap dianggap tidak mencerminkan isi acara karena komposisi pengisi cenderung didominasi genre lain pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, deretan musisi jazz seperti Margie Segers, Dewa Budjana, Fariz RM, dan Joey Alexander menempati lebih dari separuh slot. Joey Alexander adalah pianis peraih nominasi Grammy asal Indonesia yang berkarier di Amerika Serikat. Ia tampil berdampingan dengan NIKI, penyanyi Indonesia yang juga berkarier di sana.

Keduanya dibingkai panitia sebagai diaspora Indonesia yang "pulang kampung" ke panggung Prambanan. NIKI memang sudah dijadwalkan sebagai headliner hari kedua bahkan sebelum festival dibuka. Antusiasme itu terbukti: slot hari kedua ludes terjual.

Hari penutup: Wayang Bocor dan nostalgia Solo-Jakarta

Hari ketiga menjadi sesi paling beragam formatnya. Tulus memperkenalkan lagu baru "Teh Hijau" dari panggung Prambanan. Jikustik melakukan ajang reuni bersama sang vokalis, Pongky Tri Barata. Sementara ada Rio Febrian yang tampil berdua dengan putranya, Jamaica Fosteriano.

Dari sisi seni, puncak hari terakhir diramaikan oleh pertunjukan Wayang Bocor karya perupa Eko Nugroho yang memadukan wayang, seni rupa kontemporer, dan teater. Dalam edisi ini, pertunjukan itu berkolaborasi dengan Ki Catur Kuncoro, Ari Wulu, Eko Supriyanto, dan Didik Nini Thowok, penari lintas gender legendaris asal Yogyakarta.

Bagi penonton dari luar kota, momen-momen di hari terakhir punya berat tersendiri. "Ada rasa haru yang susah dijelaskan kalau dengerin lagu 'Yogyakarta' langsung di Prambanan. Saya besar di Jakarta, tapi tiap dengar lagu ini dibawakan KLa di sini, saya selalu merasa seperti sedang pulang ke rumah," kata Ratih (40), akuntan asal Jakarta.

Sentimen serupa muncul dari Aryasatya (38), pekerja swasta asal Solo. "Mendengar Jikustik nyanyi lagu 'Puisi' langsung di Yogya itu rasanya beda. Kayak diputar balik ke tahun 2005 waktu saya masih kuliah di sini."

Di balik tiket: hotel, UMKM, dan angka yang belum keluar

Prambanan Jazz Festival adalah salah satu acara yang berkaitan langsung dengan perputaran ekonomi di kawasan Sleman. Gistang Panutur, Commercial Director InJourney Destination Management, menyebut festival ini berdampak positif pada sektor perhotelan, transportasi, ekonomi kreatif, dan UMKM di kawasan Candi Prambanan. Edisi sebelumnya menarik sekitar 76.000 penonton, dan proyeksi pertumbuhan untuk 2026 sudah dikemukakan sebelum festival dimulai.

Candi Prambanan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO memberi festival ini latar yang membedakannya dari venue konser di kota. Penyelenggara tampak mengelola dua ekspektasi sekaligus: mempertahankan relevansi budaya lokal melalui Wayang Bocor dan Didik Nini Thowok, serta mempertahankan daya tarik komersial melalui enam headliner lintas genre. Dari sisi jumlah penonton, hasilnya terlihat pada hari kedua yang sold out.

Tahun ini Yogyakarta juga jadi tuan rumah Jogja Marathon 2026 dengan rekor 10.200 pelari dari 17 negara, memperkuat pola kota ini sebagai titik temu event nasional dan internasional secara berulang.

Angka resmi dampak ekonomi festival, termasuk tingkat hunian hotel Sleman dan serapan UMKM selama tiga hari, belum dirilis saat berita ini diturunkan. InJourney dan penyelenggara biasanya mempublikasikannya dalam beberapa hari hingga sepekan setelah acara selesai.