Kalasuara - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan kembali niatnya menjadikan Taman Ismail Marzuki pusat berkarya para seniman, tepat di panggung peringatan 100 tahun kelahiran Ali Sadikin di TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026). Acara itu juga dihadiri mantan Gubernur Fauzi Bowo. Sebagai bukti bahwa kawasan itu sudah bergerak, Pramono menunjuk satu fakta. Planetarium Jakarta yang tiketnya hampir selalu habis sejak dibuka kembali pada akhir Desember 2025, bahkan warga rela mengantre sejak subuh.

"Saya pengin betul yang namanya Taman Ismail Marzuki itu menjadi ruang publik yang dikelola bersama," kata Pramono.

Peringatan seabad Bang Ali berlangsung 7 hingga 14 Juli 2026, berpusat di Plaza Teater Jakarta dan terbuka untuk umum. Rangkaiannya mencakup pameran arsip, diskusi publik, pertunjukan musik, tari, teater, pemutaran film, pasar seni, dan tenda kuliner.

Apa yang dijanjikan Pramono untuk TIM?

Mengutip Detik.com: Pramono menyatakan ingin TIM dikelola bersama antara Pemprov dan komunitas seni, dengan ruang terbuka seluas-luasnya bagi seniman untuk berkarya. Ia menempatkan warisan utama Ali Sadikin pada perhatiannya terhadap kebudayaan dan kesenian, dan menjadikan TIM sebagai institusi paling konkret dari warisan itu.

Pramono menyebut warisan utama Bang Ali bukan sekadar hal yang bersifat fisik, melainkan apa yang berkaitan dengan budaya dan seni dengan TIM sebagai salah satu wujud paling nyata dari warisan itu.

Pada 23 Juni 2026, Pramono mengukuhkan 16 anggota Akademi Jakarta, 9 anggota lama dan 7 baru. Akademi Jakarta adalah lembaga kebudayaan yang berkaitan erat dengan pengelolaan kawasan TIM, dan Pramono menyebut langkah itu sebagai upaya membuka ruang seni lebih luas.

Ali Sadikin mendirikan TIM pada 1968 sebagai pusat kesenian ibu kota. Pada periode gubernur sebelumnya, renovasi besar kawasan ini menuai kritik dari kalangan seniman yang menilai kawasan bergeser menjadi proyek properti dan kehilangan denyut komunitasnya.

Tujuh bulan, 800 kursi sehari

Planetarium Jakarta tutup selama lebih dari 13 tahun, sejak 2012. Pramono membuka kembali fasilitas itu pada 23 Desember 2025 dengan pembaruan teknologi, termasuk fitur AI interaktif yang menampilkan wajah gubernur dan wakil gubernur. Pengelolaannya diserahkan kepada PT Jakarta Propertindo (Jakpro).

"Setelah lebih dari 13 tahun, sejak tahun 2012, Planetarium yang digagas oleh Bang Ali Sadikin, alhamdulillah hari ini bisa dihidupkan kembali," kata Pramono saat peresmian Desember lalu.

Teater Bintang di lantai 2 Planetarium menerima maksimal 200 penonton per sesi, dengan empat sesi reguler setiap hari: pukul 09.00, 11.30, 14.00, dan 16.30 WIB. Artinya, kapasitas harian maksimum mencapai 800 kursi. Pada masa awal pembukaan, tiket sudah ludes hingga tanggal 27 dan pengunjung mulai mengantre sejak subuh.

Pramono menggratiskan pelajar Jakarta selama tiga bulan pertama dengan menunjukkan kartu pelajar atau KJP. Orang tua dan pendamping membayar tarif promosi Rp10.000.

"Dulu ketika saya kecil, fasilitasnya belum sebagus sekarang. Dengan tambahan teknologi AI Gubernur dan Wagub, pengunjung akan mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dan lebih menarik," kata Pramono.

Keramaian pengunjung versus ruang berkarya

Antrean Planetarium memberikan angka yang konkret, tapi pertanyaan yang relevan bagi seniman dan pengelola TIM adalah apakah keramaian itu mencerminkan kebangkitan ekosistem seni, atau keberhasilan sebuah wahana edukasi sains yang diperbarui secara fisik dan digital.

Pramono menyatakan jiwa kebudayaan adalah warisan paling utama Bang Ali. Tapi Planetarium yang ia tunjuk sebagai bukti adalah produk renovasi fisik yang dikelola perusahaan properti milik Pemprov. Daya tariknya bertumpu pada teknologi baru dan tarif subsidi, dengan pengunjung yang datang untuk melihat bintang.

Apakah janji "dikelola bersama" akan terwujud dalam mekanisme konkret seperti skema pembagian ruang latihan, alokasi jam pertunjukan untuk kelompok seni komunitas, atau anggaran program kesenian dari Pemprov: jawaban itu belum ada hari ini.

Masa promosi tiga bulan pelajar sudah berakhir sekitar Maret–April 2026. Data kunjungan setelah subsidi dicabut akan menentukan apakah animo Planetarium bertahan karena daya tarik konten atau karena tarif murah. Di acara yang sama, Pramono juga menyinggung rencana menata Pasar Baru menyerupai kawasan Myeongdong di Seoul dan melanjutkan revitalisasi Setu Babakan.