Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi menyaksikan penandatanganan 16 dokumen kerja sama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Kerjasama ini bidang keamanan maritim, penanggulangan bencana, mineral, kesehatan, konservasi cagar budaya, telekomunikasi, farmasi, pertanian, hingga riset dan inovasi. Kedua negara memasang target perdagangan bilateral US$100 miliar pada 2030, atau dua kali lipat dari sasaran yang ditetapkan pada kunjungan Modi ke Indonesia tahun 2018 dan baru tercapai separuhnya.

Melalui 16 dokumen tersebut, Modi dan Presiden Prabowo menegaskan komitmen memperkuat hubungan bilateral Indonesia-India. Kolaborasi itu mencakup sektor strategis yang dinilai penting bagi pengembangan ekonomi, teknologi, pertahanan, dan sumber daya manusia kedua negara.

Mengapa target US$100 miliar perlu dicermati?

Target itu menuntut kenaikan nilai dagang empat kali lipat dari angka terkini dalam empat tahun ke depan. Ketika Modi berkunjung ke Indonesia pada 2018, kedua negara menetapkan sasaran perdagangan bilateral US$50 miliar pada 2025. Realisasinya tercatat sekitar US$24,78 miliar pada tahun fiskal 2025-26, kurang dari separuh janji.

Akar ketimpangan itu ada di struktur dagangnya. India mencatat defisit perdagangan sekitar US$20 miliar terhadap Indonesia karena membeli batu bara, minyak sawit mentah, dan mineral. Pola komoditas ini terbentuk selama puluhan tahun dan lambat berubah tanpa investasi hilir yang konkret. Indonesia memegang sekitar 21 persen cadangan nikel dunia, komoditas yang kini diincar India untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik. Apakah tujuh sektor yang disepakati hari ini mendorong investasi manufaktur dan alih teknologi, atau hanya memperbesar volume ekspor mentah, akan terlihat dari rincian dokumen yang belum dipublikasikan.

Paket pertahanan dan konektivitas strategis

Porsi pertahanan dalam kunjungan ini mencakup akuisisi rudal udara-ke-udara Astra buatan India dan penandatanganan kontrak rudal jelajah supersonik BrahMos — keduanya baru resmi ditandatangani dalam kunjungan ini. India juga membantu pengembangan mesin pemungutan suara elektronik.

Kedua negara menyepakati koridor konektivitas pelabuhan: Indonesia membangun Pelabuhan Sabang di ujung barat Aceh, India mengembangkan pelabuhan di Kepulauan Andaman dan Nikobar. Dua titik itu mengapit mulut Selat Malaka, jalur pelayaran paling padat di dunia. India menempatkan seluruh rangkaian ini dalam kerangka Act East Policy dan visi MAHASAGAR untuk Indo-Pasifik bebas dan terbuka.

Dari obat murah hingga kampus IIM

Modi menyatakan kerja sama farmasi akan memperluas akses obat terjangkau dari India. "Melalui kesepakatan ditandatangani hari ini, obat-obatan berkualitas dan terjangkau dari India akan semakin tersedia bagi warga negara Indonesia," katanya.

Di bidang pendidikan, kedua pemimpin mendukung pendirian kampus Indian Institute of Management di Indonesia, dengan kemungkinan Indian Institute of Technology menyusul. "Di bidang pendidikan, baik Perdana Menteri Modi maupun saya mendukung didirikannya kampus Indian Institute of Management dan juga kemungkinan pendirian Indian Institute of Technology di Indonesia," kata Prabowo. IIM dan IIT dikenal sebagai lembaga pencetak SDM manajemen dan teknik terbaik India.

Satu MoU lainnya mengatur restorasi Candi Prambanan dengan bantuan India. Tahun 2026-2027 ditetapkan sebagai "Tahun Tagore-Dewantara," menandai ikatan budaya dan intelektual kedua bangsa.

Kunjungan keempat, warisan yang belum selesai

Modi tiba di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma pada Senin sore (6/7) dan dijadwalkan mengunjungi Prambanan, Yogyakarta, sebelum bertolak ke Australia. Kunjungan Modi ke Indonesia ini merupakan yang keempat dan kunjungan kenegaraan penuh keduanya setelah 2018. Sebelumnya, Prabowo menjadi tamu kehormatan pada peringatan Hari Republik India, Januari 2025. Hubungan diplomatik RI-India berjalan sejak 1951, diteguhkan dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung (1955).

"Kunjungan Perdana Menteri Modi kali ini menjadi tonggak bersejarah," kata Prabowo. "Kunjungan ini merupakan cermin komitmen kedua negara untuk terus memajukan kemitraan strategis komprehensif melalui kerja sama yang konkret dan saling menguntungkan."

Tiga hal yang akan menentukan bobot nyata kunjungan ini: teks resmi 16 dokumen dan status pengikatnya, skema investasi manufaktur di sektor nikel dan ekonomi digital, serta kepastian pendanaan dan jadwal proyek Sabang. Ketiganya belum diumumkan.