Ada tren baru untuk mengisi libur sekolah semester genap DKI Jakarta, yang berlangsung 27 Juni hingga 11 Juli 2026, Museum Passport. Namun sayangnya baru memasuki pekan keduanya, di saat permintaan terbesar menghampiri program ini, justru
promo harga Museum Passport sudah ditutup per tanggal 30 Juni.
Museum Passport adalah buku bergaya paspor perjalanan yang dirilis Kementerian Kebudayaan melalui unit Museum dan Cagar Budaya (MCB, atau Indonesian Heritage Agency/IHA) pada 16 Juni 2026, bertepatan hari jadi ke-4 MCB. Setiap museum peserta menyediakan cap unik; pemilik buku mengumpulkan cap sebagai rekam jejak kunjungan. Konsepnya mengadaptasi "stamp rally" yang sudah lama populer di Jepang untuk stasiun kereta dan situs wisata, dan MCB memindahkannya ke museum Indonesia dengan incaran utama Gen Z dan Alpha.
Apa yang didapat pembeli?
Setiap pembelian menyertakan voucher tiket masuk gratis ke museum di bawah naungan MCB, jadi pemegang buku tidak perlu membayar tiket terpisah untuk setiap kunjungan. Buku dijual melalui IHA Shop, toko suvenir museum kelola MCB, Toko Buku Gramedia (Matraman dan Jalma), serta gramedia.com. Buku dikembangkan bersama Paperina.
Bagi keluarga yang berencana mendatangi beberapa museum selama libur, penghematan tiket bisa menutup harga buku. "Sebenarnya ini sebagai bagian dari semangat warisan budaya kita," kata Kepala MCB Indira Estiyanti Nurjadin saat peluncuran.
Mengapa baru 16 museum yang ikut?
Dari ratusan museum di Indonesia, 16 aktif menyediakan cap Museum Passport ketika program diluncurkan. Angka ini mencerminkan cakupan MCB sebagai satu unit pemerintah pusat: museum yang dikelola pemerintah daerah dan swasta belum masuk program.
Dari 16 lokasi awal, Museum Nasional Indonesia di Jakarta, Museum Majapahit di Jawa Timur, dan Museum Manusia Purba Sangiran di Jawa Tengah termasuk di antara pesertanya. Sebaran ini memusat di Jawa. Pemilik paspor dari Kalimantan, Sulawesi, atau Nusa Tenggara mendapati pilihan lokasi yang jauh lebih sedikit untuk mengisi halaman buku mereka.
MCB menyatakan 18 museum dan 34 cagar budaya di bawah naungannya sudah siap berpartisipasi, dengan daftar yang terus bertambah. Apakah museum di luar jaringan MCB akan diajak bergabung menentukan apakah program ini menjadi standar lintas-institusi atau tetap terbatas pada satu jaringan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut program ini sebagai permulaan. "Semoga Museum Passport ini dapat menjadi langkah awal, langkah inovatif menjadikan pengunjung mengunjungi museum," katanya.
Wisata jarak dekat mendorong permintaan
Museum Passport muncul di tengah pergeseran pola perjalanan domestik. Kementerian Pariwisata mencatat 67,70 persen pergerakan wisatawan nusantara tahun lalu terjadi di dalam provinsi. Wisata jarak dekat, terjangkau, dan bermuatan edukatif makin diminati bersamaan dengan tekanan efisiensi yang mendorong keluarga mencari pilihan lebih hemat.
"Nah ini kelihatan sekali memang, perjalanan itu terjadi di dalam provinsi saja, jadi terdekat gitu ya," kata Nia Niscaya, Juru Bicara Kementerian Pariwisata, soal tren libur sekolah 2026.
Museum pas dengan pola itu, dan kini ditambah elemen gamifikasi cap yang membuat kunjungan terasa lebih terstruktur bagi anak-anak maupun remaja.
Tiga ukuran nyata
Seberapa jauh Museum Passport berkembang dari tren awal akan terlihat dari tiga hal: seberapa cepat jumlah museum peserta bertambah dan apakah menjangkau luar Jawa; apakah MCB membuat promo baru selama pekan puncak libur hingga 11 Juli setelah promo Rp81.000 berakhir; dan angka kunjungan museum MCB selama Juni-Juli yang terukur dari data pintu masuk, terpisah dari ramainya perbincangan di media sosial.



