Kalasuara - Robert Lewandowski menilai Lamine Yamal belum tampil di level terbaiknya sepanjang Piala Dunia 2026, sekalipun pemain sayap 19 tahun itu ikut mengantar Spanyol meraih gelar juara dunia. Penilaian itu disampaikan empat hari setelah Spanyol menundukkan Argentina 1-0 di final, Minggu, 19 Juli 2026, di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, lewat gol tunggal Ferran Torres.

Lewandowski, yang kini membela Chicago Fire dan pernah menjadi rekan setim Yamal di Barcelona, menunjuk cedera sebagai akar masalahnya. Yamal tiba di turnamen dalam kondisi belum pulih sepenuhnya dari cedera hamstring, setelah absen bermain sekitar delapan pekan. Jadwal pertandingan setiap tiga hari kemudian membuatnya nyaris tidak punya waktu latihan penuh, sehingga pelatih Luis de la Fuente harus mengatur menit bermainnya pada fase awal kompetisi.

"Dia masih sangat muda, datang ke Piala Dunia setelah cedera, dan tidak bermain selama sekitar delapan pekan. Sangat sulit jika Anda absen selama delapan pekan lalu langsung tampil di Piala Dunia tanpa waktu latihan karena hanya berpindah dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya," kata Lewandowski.

Catatan statistik Yamal memperlihatkan kesenjangan itu. Sepanjang turnamen ia hanya mencetak satu gol, dalam laga Grup H melawan Arab Saudi di Atlanta pada 21 Juni 2026. Namun ia membukukan 35 dribel, sentuhan yang berhasil melewati lawan, jumlah terbanyak di antara seluruh pemain turnamen menurut catatan Liputan6. Selisih itu menunjukkan perannya tetap besar dalam menggerakkan serangan Spanyol dari sisi kanan, meski hasil akhirnya tak sebanding dengan volume kerjanya.

Mengapa satu gol tidak mencerminkan performa Yamal di Piala Dunia 2026?

Satu gol tidak mencerminkan seluruh kontribusi Yamal karena pengaruhnya lebih banyak hadir lewat progresi bola dan duel satu lawan satu ketimbang catatan akhir di papan skor. Torehan 35 dribelnya memperlihatkan ia tetap menjadi jalur utama serangan meski kondisi fisiknya belum ideal, menarik perhatian pertahanan lawan dan membuka ruang bagi rekan setimnya.

Lewandowski menegaskan hal itu ketika membandingkan Yamal saat ini dengan versi terbaiknya. "Sejujurnya, tidak, kami belum melihat versi terbaiknya di turnamen ini. Bagi saya, penampilan terbaik Lamine bukan musim lalu, melainkan dua musim lalu. Itulah versi terbaik Lamine Yamal menurut saya," katanya.

Apa yang membuat Spanyol tetap juara meski Yamal belum di puncak form?

Spanyol tetap efektif karena beban ofensif tidak ditumpukan pada satu pemain. Ketika Yamal belum mencapai ketajaman terbaik, pemain lain mengambil alih tugas menyelesaikan serangan, seperti terlihat dari gol tunggal Ferran Torres di final. "Namun, dia tetap menunjukkan kualitas yang sangat baik. Para pemain Spanyol membantu Lamine dan Lamine juga membantu seluruh tim. Saya pikir kerja sama itu berjalan sempurna," ujar Lewandowski.

Jalan Spanyol menuju gelar melewati sejumlah tim kuat. Mereka menyingkirkan Portugal lewat gol Merino di menit tambahan babak kedua, lalu Prancis, sebelum akhirnya mengalahkan Argentina di final. Rangkaian hasil itu, ditambah rute Argentina dan Prancis yang sama-sama lolos dari fase grup dengan modal Messi, memperkuat argumen bahwa kekuatan utama Spanyol berada pada mekanisme kolektif, bukan ketergantungan pada satu bintang.

Lewandowski juga menjelaskan alasan pribadinya mendukung Spanyol di final, mengingat masa lalunya di Barcelona bersama Yamal, Gavi, Pedri, Pau Cubarsi, dan Ferran Torres. "Mereka mengendalikan jalannya permainan sepanjang waktu, dan terus menguasai bola. Saya mendukung Spanyol, karena saya menghabiskan bertahun-tahun di Barcelona dan memiliki banyak teman di sana, jadi saya sangat mendukung mereka. Adapun dari Argentina, saya hanya mendukung Messi, tapi ia sudah memenangkan Piala Dunia yang terakhir, itulah sebabnya saya berharap Spanyol menang," katanya. Ia menambahkan bahwa Spanyol sebenarnya berpeluang menang lebih cepat atau dengan margin lebih besar, mengingat kendali penuh mereka atas jalannya laga final melawan Argentina yang sempat diwarnai petisi jutaan tanda tangan menjelang turnamen.

Yang perlu dipantau selanjutnya adalah pemulihan hamstring Yamal setelah turnamen dan bagaimana Barcelona mengatur bebannya begitu kompetisi klub bergulir kembali. Jika klub mampu memulihkan kebugarannya tanpa memaksakan menit bermain, Spanyol dan Barcelona berpeluang mendapat versi Yamal yang lebih tajam, dari pemain yang sudah ikut membawa negaranya juara dunia ketika kondisinya belum sepenuhnya pulih.