Kalasuara - Donald Trump disebut ingin mengusulkan Gianni Infantino, Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), sebagai calon Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa berikutnya. New York Post melaporkan hal itu pada 21 Juli 2026, mengutip sumber dekat presiden Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya.
Sumber tersebut menyebut Trump menilai keberhasilan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 memperlihatkan kemampuan Infantino menyatukan orang-orang dari berbagai negara. Penilaian itu masih berstatus laporan media, bukan pengumuman resmi dari Gedung Putih maupun pencalonan formal ke PBB.
Bisakah Trump langsung menjadikan Infantino Sekjen PBB?
Tidak. Sekretaris Jenderal PBB adalah kepala eksekutif organisasi itu, diangkat oleh Majelis Umum berdasarkan rekomendasi Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara. Lima di antaranya, Amerika Serikat, China, Rusia, Prancis, dan Inggris, memegang hak veto dan masing-masing bisa menggagalkan satu nama sendirian.
Dukungan Trump memberi Infantino pijakan dari satu anggota tetap. Ia tetap membutuhkan penerimaan empat pemegang veto lainnya serta suara memadai di Dewan Keamanan sebelum 193 anggota Majelis Umum, termasuk Indonesia, ikut menentukan pengangkatan. Indonesia sendiri tidak duduk di Dewan Keamanan pada 2026; keanggotaan terakhirnya berlangsung pada 2019-2020, sehingga suara Indonesia baru relevan di tahap Majelis Umum.
Bagi sepak bola Indonesia, arah pencalonan ini tetap penting karena Infantino memimpin organisasi yang menaungi 211 asosiasi anggota, termasuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Pergantian pucuk pimpinan FIFA bisa memengaruhi kesinambungan kebijakan pendanaan, tata kelola, dan kompetisi yang menyentuh federasi-federasi anggotanya.
Proses pemilihan sudah berjalan tanpa nama Infantino
Antonio Guterres mengakhiri masa jabatan keduanya pada 31 Desember 2026 dan penggantinya dijadwalkan mulai bertugas pada 1 Januari 2027. Proses pemilihan resmi dibuka lewat surat bersama Presiden Majelis Umum dan Presiden Dewan Keamanan kepada negara-negara anggota pada 25 November 2025.
Hingga Juni 2026, enam kandidat sudah menjalani dialog interaktif PBB: Michelle Bachelet, Maria Fernanda Espinosa Garces, Rafael Mariano Grossi, Rebeca Grynspan Mayufis, Macky Sall, dan Carolyn Rodrigues Birkett. Virginia Gamba menarik pencalonannya pada 25 Maret 2026. Nama Infantino tidak ada di daftar itu, dan pencalonan resmi harus diajukan oleh minimal satu negara anggota PBB, bukan diumumkan lewat sumber anonim ke media.
Kedekatan Trump dan Infantino menguat pasca-Piala Dunia
Kabar ini muncul beberapa hari setelah Trump dan Infantino tampil bersama dalam resepsi Piala Dunia di Trump Tower, Manhattan, pada 17 Juli 2026, dua hari sebelum laga final. Infantino berulang kali memuji peran Trump dalam turnamen itu.
"The American dream, Mr. President, came to reality," kata Infantino di acara tersebut. Ia menambahkan, "We united the world," dan menjelaskan lebih jauh: "We have seen millions of people coming together in the last month and a half to the United States, to Canada and to Mexico, but in every corner of the world, coming together in a peaceful way, in a joyful way, wanting to spend time together and wanting to celebrate a moment of community."
Turnamen itu sendiri sempat diwarnai kontroversi yang melibatkan Trump, termasuk saat ia menelepon FIFA untuk meloloskan Folarin Balogun dari skorsing jelang laga timnas AS. Sistem teknologi Piala Dunia 2026 sendiri sempat jadi sorotan lewat mesin offside berbasis sensor yang membelah opini publik sepanjang turnamen.
Infantino menghadapi dua jadwal yang berbenturan
Infantino sudah mengumumkan akan kembali maju dalam pemilihan Presiden FIFA pada 2027, keputusan yang telah disampaikan kepada 211 asosiasi anggota. Laporan soal pencalonan PBB muncul tanpa penjelasan apakah ia akan melepas rencana itu jika benar-benar masuk perlombaan Sekjen PBB.
Latar belakangnya sebagai warga Swiss-Italia juga jadi pertimbangan informal dalam negosiasi antarpemerintah. Guterres, Sekjen yang sedang menjabat, berasal dari Portugal, dan rotasi geografis bersama dorongan memilih perempuan pertama sebagai Sekjen, meski tidak tertulis dalam aturan, kerap memengaruhi arah lobi di antara negara anggota.
"Being FIFA President is an incredible honour, an incredible privilege, and it is also a great responsibility," kata Infantino saat terpilih kembali memimpin FIFA. Kalimat itu kini bersanding dengan pertanyaan baru: apakah ia bersedia menukar jabatan yang sudah dipegangnya delapan tahun dengan pencalonan yang jalannya jauh lebih sempit.




Komentar