Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Ketua Partai Buruh yang secara otomatis membuatnya berhenti sebagai kepala pemerintahan, dalam pernyataan singkat di depan Downing Street 10th, Senin pagi, 22 Juni 2026 waktu London. Alasan Keir Starmer mundur datang bukan dari kubu oposisi, melainkan adanya tekanan yang berasal dari partainya sendiri. Ia mengaku para anggota parlemen Buruh tak lagi melihatnya sebagai orang yang tepat untuk memimpin partai ke pemilu nasional berikutnya, dan ia menerima penilaian itu "dengan lapang dada".

Karena dalam sistem Westminster jabatan perdana menteri melekat pada pemimpin partai mayoritas di parlemen, keputusan mundur dari kursi ketua otomatis mengakhiri masa jabatannya sebagai kepala pemerintahan. Starmer menyatakan telah menemui Raja Charles III pagi itu untuk memberitahukan keputusannya, dan akan bertahan sebagai perdana menteri sementara (caretaker) sampai ketua baru terpilih.

Kurang dari dua tahun sebelumnya, sosok yang sama membawa Partai Buruh meraih salah satu kemenangan pemilu terbesar dalam sejarah partai itu pada Juli 2024, mengakhiri 14 tahun kekuasaan Partai Konservatif. Mandat sebesar itu kini berbalik menjadi sumber kejatuhannya. Kabar kemunduran ini sudah berhembus sejak pekan lalu, seperti dilaporkan dalam Starmer yang dikabarkan mundur dan tantangan Burnham; pada Senin ini kabar itu menjadi kenyataan.

Mengapa Keir Starmer mundur?

Karena partainya sendiri menarik dukungan. Setelah dua tahun popularitas yang merosot, kekalahan di pemilu lokal 2025 dan 2026, dan pemberontakan terbuka dari kursi belakang, Starmer menyimpulkan ia tak lagi punya mandat internal untuk memimpin ke pemilu nasional dan memilih mundur ketimbang digulingkan paksa.

Pemicu langsungnya berlangsung empat hari sebelum pengumuman. Pada Kamis, 18 Juni 2026, mantan Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham memenangi pemilu sela di Makerfield dengan selisih yang cukup besar hampir 25.000 suara dan mayoritas lebih dari 9.200 suara, melampaui prediksi jajak pendapat. Kursi Makerfield sengaja dikosongkan oleh anggota parlemen petahana agar Burnham bisa masuk ke House of Commons, prasyarat yang harus dipenuhi sebelum ia bisa menantang kepemimpinan partai secara resmi. Kemenangan itu menghapus penghalang terakhir.

Tekanan sudah menumpuk jauh sebelumnya. Sejak pertengahan Mei 2026, lebih dari seratus anggota parlemen Buruh menyerukan agar Starmer mundur atau setidaknya menetapkan jadwal kepergiannya. Tekanan juga merembet ke dalam kabinet; sejumlah menteri dilaporkan ikut mendesaknya mundur, termasuk nama-nama di pos dalam negeri dan luar negeri, meski Downing Street tidak mengonfirmasi daftar itu secara resmi.

Inggris menuju PM ketujuh dalam satu dekade

Pengunduran diri Starmer membuat Inggris akan segera memiliki perdana menteri ketujuh dalam sepuluh tahun terakhir. Starmer sendiri adalah PM keenam sejak referendum Brexit, menyusul David Cameron, Theresa May, Boris Johnson, Liz Truss, dan Rishi Sunak. Tak satu pun dari mereka mampu menuntaskan satu periode penuh, sebuah pola "pintu putar" Downing Street yang kini berulang sekali lagi.

Ironi waktunya tajam. Starmer mundur tepat sehari sebelum peringatan sepuluh tahun referendum Brexit pada 23 Juni 2016, pemungutan suara yang oleh banyak analis dianggap membuka babak ketidakstabilan politik dan tekanan ekonomi yang justru turut menyeret pemerintahannya. Sejumlah analisis ekonomi memperkirakan output Inggris kini lebih kecil dibanding skenario tanpa Brexit. Beban struktural itu ikut menjelaskan mengapa kursi perdana menteri begitu sulit dipertahankan dalam satu dekade terakhir.

Dalam pernyataannya, Starmer menegaskan ia tidak akan meninggalkan kursi begitu saja. "Saya akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sampai proses pemilihan tuntas. Dan saya akan melakukan segala yang saya bisa untuk memastikan peralihan kekuasaan berlangsung tertib," ujarnya di depan Downing Street. Soal keputusan partainya, ia berkata, "Pertanyaan yang kini diajukan partai saya adalah apakah saya orang yang paling tepat untuk memimpin kami ke pemilu nasional berikutnya. Saya sudah mendengar jawaban parlemen partai saya, dan saya menerima jawaban itu dengan lapang dada."

Siapa yang akan menggantikannya?

Andy Burnham menjadi satu-satunya kandidat yang sejauh ini memastikan maju, sehingga ia berpeluang besar menjadi penghuni baru Downing Street 10th. Figur populer yang menjabat Wali Kota Greater Manchester selama hampir satu dekade itu dijuluki "King of the North". Mantan Menteri Kesehatan Wes Streeting, yang mengundurkan diri dari kabinet pada Mei 2026, dilaporkan langsung menyatakan dukungan kepada Burnham kurang dari satu jam setelah pengumuman Starmer.

Starmer meminta Komite Eksekutif Nasional (NEC) Partai Buruh membuka pencalonan ketua pada 9 Juli dan menutupnya menjelang reses musim panas pada 16 Juli 2026, agar pemimpin baru sudah ada sebelum Parlemen kembali bersidang pada September. Apakah jadwal ketat itu menghasilkan kontestasi penuh atau jalan mulus bagi Burnham masih harus dilihat. Seorang anggota parlemen Konservatif menyindir Burnham sebagai "Keir Starmer dengan aksen Utara", sementara para pengkritik menyoroti retorika populisnya.