Kelebihan dan kekurangan mobil listrik di Indonesia pada 2026 kini bisa diringkas jadi satu kalimat: ia unggul sebagai alat transportasi, tetapi lemah sebagai aset. Biaya pakai hariannya bisa lima kali lebih murah dari mobil bensin sekelas, sementara nilai jualnya bisa susut separuh hanya dalam tiga tahun. Bagi calon pembeli yang sedang menghitung untung-rugi, dua sisi ini harus dibaca bersamaan, bukan ditimbang sebelah.
Mobil listrik murni, atau BEV (battery electric vehicle), adalah kendaraan yang sepenuhnya digerakkan motor listrik dan baterai, tanpa mesin bensin sama sekali. Di atas kertas, ekonominya menggoda. Persoalannya, sebagian besar penghematan itu baru terasa kalau mobil dipakai panjang dan tidak cepat berpindah tangan.
Hemat saat dipakai, ini hitungannya
Sisi kuat mobil listrik ada di biaya operasional harian. Berdasarkan ilustrasi PLN, menempuh 10 kilometer dengan mobil bensin perlu sekitar Rp13.000, sedangkan dengan mobil listrik cukup sekitar 1,5 kWh seharga kira-kira Rp2.600. Selisihnya hampir lima kali lipat. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut pengguna kendaraan listrik terbukti lebih hemat dengan perbandingan biaya tersebut.
Tarif stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) per Maret 2025 berada di kisaran Rp2.466 per kWh, dengan diskon 30 persen untuk pengisian pada pukul 22.00 sampai 05.00 WIB. Artinya, pemilik yang disiplin mengisi daya malam hari bisa menekan biaya lebih jauh lagi. Perawatan juga lebih ringan karena komponen bergeraknya jauh lebih sedikit ketimbang mesin pembakaran.
Infrastruktur ikut mengejar. Sepanjang 2025, PLN dan mitranya mengoperasikan 4.655 unit SPKLU yang tersebar di 3.007 titik, naik sekitar 44 persen dari 3.223 unit pada 2024. Pemerintah menargetkan 24.720 unit pengisian publik pada 2030, sinyal bahwa cakupan masih dalam tahap pembangunan. Bagi pengendara dalam kota, jaringan ini sudah memadai; untuk perjalanan antarkota dan luar Jawa, kekhawatiran kehabisan daya masih beralasan. Topik pasokan listrik sendiri belakangan jadi sorotan, seperti terlihat saat kompensasi pemadaman dilempar ke PLN.
Mengapa nilai jual mobil listrik bekas bisa anjlok 50%?
Karena harga mobil listrik baru terus turun dan pembiayaan bekasnya masih seret. Setiap kali model baru yang lebih murah dan canggih dirilis, harga unit lama ikut tergerus. Direktur OLXmobbi Agung Iskandar menyebut depresiasi mobil listrik bekas berusia sekitar tiga tahun bisa mencapai 50 persen, jauh di atas mobil bensin sekelas.
"Penurunannya cukup signifikan. Untuk mobil listrik berusia sekitar 3 tahun, depresiasi harga bisa mencapai 50%," kata Agung.
Contoh konkretnya terlihat pada Hyundai Ioniq 5 keluaran 2022. Mobil yang dulu dibanderol di kisaran Rp800 juta kini berpindah tangan di sekitar Rp350 juta di pasar bekas, susut sekitar 56 persen. Angka ini membuat penghematan bensin selama tiga tahun bisa habis tertelan kerugian nilai jual.
Tekanan diperdalam oleh sikap lembaga keuangan. Menurut Agung, kredit untuk mobil listrik bekas masih jarang tersedia. "Hal ini terjadi karena lembaga pembiayaan masih jarang menyediakan fasilitas kredit untuk mobil listrik bekas," ujarnya. Tanpa skema kredit yang mudah, pasar pembeli menyempit, dan harga jual ikut tertekan. Faktor teknis menambah keraguan: kondisi baterai yang menurun dari tahun ke tahun serta garansi yang kerap dianggap hangus saat kendaraan berganti pemilik.
Pasar melambat saat pilihan justru bertambah
Ironisnya, semua ini terjadi ketika pasar sedang lesu. Penjualan BEV pada Mei 2026 hanya 9.290 unit secara wholesales, turun 37,34 persen dari 14.825 unit pada April dan menjadi catatan terendah sepanjang tahun berjalan. Penyebabnya bukan soal produk. Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menunjuk ketidakpastian kebijakan sebagai biang keladi.
"Iya kan soal insentif yang ditunda, melemahnya rupiah, dan lain-lain," kata Jongkie.
Kepastian insentif yang sempat diarahkan ke pertengahan 2026 kembali mundur, dan banyak calon pembeli memilih menunggu. Tekanan rupiah turut menahan permintaan, pola yang juga membayangi pasar di tengah defisit APBN yang melonjak.
Meski begitu, pelemahan ini lebih tepat dibaca sebagai jeda ketimbang keruntuhan tren. Sepanjang 2025, BEV mencatat 103.931 unit dengan pangsa pasar 12,9 persen. Peta merek pun bergeser cepat: Mei 2026 dikuasai pendatang baru Jaecoo J5 dengan 2.943 unit dan Geely EX2 dengan 1.395 unit, sementara BYD yang biasanya dominan justru terdepak dari sepuluh besar. BYD M6 hanya menempati posisi ke-12 dengan 197 unit. Bagi pembeli, persaingan ketat ini berarti harga baru yang makin agresif, tetapi sekaligus depresiasi yang makin tajam bagi unit lama.
Untuk siapa mobil listrik 2026 cocok?
Pengguna yang paling diuntungkan adalah mereka yang berkendara harian dalam jarak menengah di perkotaan, punya akses pengisian daya di rumah, dan berniat memakai mobilnya lima tahun atau lebih. Bagi profil ini, penghematan energi dan perawatan benar-benar terkumpul seiring waktu.
Sebaliknya, calon pembeli yang gemar berganti mobil setiap dua hingga tiga tahun perlu berhati-hati. Pada rentang itu, kerugian depresiasi bisa menelan seluruh penghematan operasional. Begitu pula mereka yang sering menempuh jalur antarkota di luar Jawa, di mana jaringan SPKLU belum serapat di kota besar.
Indonesia kini menampung sekitar 98.000 mobil listrik roda empat, dengan proyeksi menembus 130.000 unit pada akhir 2026. Makin banyak keluarga kelas menengah menghadapi keputusan ratusan juta rupiah dengan informasi yang sering hanya menonjolkan satu sisi, entah hemat-nya saja atau anjlok-nya saja.
Verdict
Sebagai alat transportasi, mobil listrik 2026 sudah matang dan jelas lebih murah dioperasikan. Sebagai instrumen keuangan, ia masih berisiko, terutama jika Anda tidak berniat menyimpannya lama. Saran praktisnya: beli kalau pemakaian panjang dan ada pengisian di rumah, tunda kalau Anda mengincar nilai jual kembali atau menunggu kepastian insentif.
Tiga hal yang menentukan apakah perhitungan ini membaik dalam beberapa bulan ke depan adalah kepastian insentif pajak, kestabilan harga bekas saat gelombang model baru murah berlanjut, dan munculnya skema kredit serta garansi baterai pihak ketiga yang bisa mengangkat kembali nilai jual kendaraan listrik bekas.



