Kalasuara - Alfamart meresmikan bioskop mini keduanya di gerai Sudirman Raya, Bogor, pada 3 Juli 2026. Tiket dijual Rp15 ribu di hari kerja dan Rp20 ribu di akhir pekan, kapasitasnya 49 kursi, dan film yang diputar adalah judul yang sudah habis masa tayang utamanya di bioskop besar.

Victor Timothy, CEO Layar Digi selaku operator, mengatakan tingkat keterisian jauh melampaui target awal. "Tadinya kami cuma kira-kira 50 persen, tapi yang di database kami ternyata 97-100 persen," katanya.

Studio ini adalah yang kedua setelah lokasi percontohan dibuka di Alfamart Ruko Agricola, Gading Serpong, Tangerang, pada 1 April 2026.

Apa bedanya dengan bioskop biasa?

Bioskop mini Alfamart adalah studio second-run mikro: ruang putar kecil yang mengisi jeda setelah film habis masa tayang perdananya di gedung bioskop besar. Harga tiketnya jauh lebih rendah, lokasinya di lantai dua minimarket, dan pilihannya mencakup animasi, drama religi, horor, serta thriller.

Satu ciri khas langsung terasa: tidak ada penjualan makanan atau minuman di dalam studio. Penonton membeli camilan di gerai Alfamart di bawah, pada harga normal ritel. Di bioskop konvensional, konsesi dalam gedung adalah salah satu sumber pendapatan per penonton tertinggi: harga cemilan di lobi kerap melampaui harga tiket itu sendiri. Di model ini, fungsi itu ada di lantai bawah, dilayani kasir minimarket, dengan harga komoditas ritel biasa.

Pergeseran itu mengubah logika monetisasi: dari konsesi mahal di dalam gedung ke volume penonton yang mendorong lalu lintas belanja ke gerai di bawahnya.

Tiket dibeli lewat mesin otomatis di lokasi atau aplikasi Alfagift. Lima hingga enam sesi tayang berlangsung setiap hari.

Bagaimana dua mitra berbagi peran?

Alfamart menyediakan ruang komersial, umumnya lantai dua gerai yang sebelumnya tidak produktif. Layar Digi mengoperasikan studio, mengelola konten, dan menangani layanan pelanggan. Bagi Alfamart, kehadiran studio ini menambah alasan kunjungan selain belanja sehari-hari. Bagi Layar Digi, jaringan gerai yang tersebar luas menjadi infrastruktur distribusi siap pakai tanpa harus membangun gedung baru.

Solihin, Corporate Affairs Director Alfamart, menjelaskan tujuan kemitraan: "Kolaborasi ini bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menciptakan pengalaman baru yang lebih dekat, praktis, dan bisa dinikmati oleh berbagai kalangan."

Victor Timothy merangkum ambisi Layar Digi lebih singkat: "Hiburan tidak boleh eksklusif."

Mengapa memilih film yang sudah turun layar?

Film yang sudah habis masa tayang utamanya lebih murah dilisensikan, dan tidak terkunci oleh jendela eksklusivitas yang dipegang jaringan bioskop besar. Studio mikro seperti ini memang tidak berada di jalur distribusi perdana.

Pilihan itu selaras dengan segmen penonton yang diincar: orang yang mencari hiburan terjangkau di dekat rumah. Harga dan jarak tempuh memimpin pertimbangannya. Selama masa libur sekolah, ketika Museum Passport menarik ribuan pengunjung ke 16 museum di Jakarta dan permintaan hiburan murah meningkat, model ini menemukan momennya.

Pertanyaan yang tersisa menyangkut pasokan judul: enam sesi sehari di puluhan lokasi memerlukan katalog film yang terus terisi dan cukup bervariasi agar penonton tidak menemukan tayangan yang sama berulang.

Seberapa kuat klaim keterisian 97 persen?

Angka itu berasal dari satu sumber: database internal Layar Digi, dan baru mencakup satu hingga dua lokasi di Jabodetabek, kawasan padat perkotaan dengan mobilitas tinggi.

Bila dihitung dari data yang tersedia: 49 kursi dengan enam sesi per hari menghasilkan maksimum 294 slot tiket per lokasi per hari. Pada keterisian 97 persen, itu setara sekitar 285 penonton sehari. Proyeksi awal Layar Digi adalah 50 persen, atau sekitar 147 penonton. Capaian aktual hampir dua kali lipat dari angka tersebut.

Bila angka itu bertahan di lokasi-lokasi berikutnya, terutama di luar Jawa, model ini memiliki basis distribusi yang melampaui kawasan percobaan di kota besar. Itu juga yang akan menjawab klaim utamanya: apakah studio ini sungguh menjangkut wilayah yang selama ini tidak punya layar bioskop sama sekali, atau sekadar mengisi kantong hiburan baru di pinggiran Jabodetabek.

Layar Digi menargetkan sekitar 500.000 penonton pada fase awal dan sekitar 50 lokasi aktif sebelum 2026 berakhir. Dengan dua studio berjalan per awal Juli, 48 lokasi lagi harus dibuka dalam enam bulan. Laju pembukaan di semester II adalah penanda pertama apakah target itu dapat terwujud.