Dalam rentang tujuh hari, 17 hingga 23 Juni 2026, tiga peserta Program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) meninggal dunia di tiga satuan TNI yang berbeda: Yonanda Muhammad Taufiq di Baturaja, Anisa Muyassaroh di Balikpapan, dan Novia Rahmadhani Sihotang di Jakarta. Kematian beruntun di tiga lokasi terpisah dalam seminggu itu mendorong Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin, Kamis (25/6/2026), meminta Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dievaluasi secara menyeluruh.
Yang memberi bobot pada desakan itu adalah latar TB Hasanuddin sendiri: purnawirawan Mayjen TNI. Seorang jenderal mengajukan argumen bahwa kurikulum militer yang berjalan selama ini terlalu berat untuk peserta yang, setelah lulus, akan duduk di meja administrasi koperasi desa.
"Kalau memang peserta dipersiapkan untuk jabatan manajerial di Koperasi Desa, maka fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi saja, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang secara relevan. Adapun pelatihan militer cukup diberikan pada tingkat dasar dan terbatas saja," kata TB Hasanuddin.
Dua hari baris-berbaris untuk satu hari belajar akuntansi
Latsarmil adalah pelatihan wajib berskema Komponen Cadangan (Komcad) yang digelar Kementerian Pertahanan di 67 satuan TNI di seluruh Indonesia, menyasar 35.476 peserta: 30.000 calon manajer KDKMP dan 5.476 calon manajer Koperasi Nelayan Merah Putih.
Dari total 45 hari pelatihan, 30 hari diisi materi kedisiplinan dan kemiliteran, 15 hari sisanya untuk pembekalan manajerial. Bagi setiap peserta yang kelak akan mengelola pembukuan, simpan pinjam, dan laporan keuangan koperasi desa, waktu yang dihabiskan untuk kegiatan militer dua kali lipat dari waktu yang dipersiapkan untuk pekerjaan inti mereka.
Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Agustinus Subarsono menilai proporsi itu terbalik dari kebutuhan lapangan. "Pelatihan yang berhubungan dengan penyusunan rencana kerja koperasi dan penyusunan manajemen keuangan yang profesional akan jauh lebih bermanfaat," katanya. Pengamat ISEAS-Yusof Ishak Institute Made Supriatma mempertanyakan mengapa calon manajer koperasi dan pengelola kampung nelayan dilatih oleh Kementerian Pertahanan, dan menilai peserta seharusnya memperoleh pelatihan manajemen, akuntansi, pemasaran, serta tata kelola usaha.
Mengapa skrining kesehatan menjadi titik kritis?
Skrining kesehatan menjadi titik kritis karena dua dari tiga kematian dipicu kondisi jantung dan heat stroke saat aktivitas fisik, sedangkan satu kematian terkait penyakit tuberkulosis yang sudah ada sebelumnya. Ketiganya mengarah ke pertanyaan yang sama: apakah seleksi kesehatan awal cukup ketat untuk menyaring risiko individual sebelum peserta masuk program dengan beban fisik setara latihan militer.
Anisa Muyassaroh meninggal 18 Juni 2026 di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, akibat heat stroke dan henti jantung. Yonanda Muhammad Taufiq meninggal 17 Juni 2026 di Satdik Puslatpur Kodiklatad, Baturaja, dengan penyebab cardiac arrest. Novia Rahmadhani Sihotang meninggal 23 Juni 2026 di Satdik Pusbahasa Kodiklatau, Jakarta, terkait kondisi tuberkulosis.
TB Hasanuddin menekankan bahwa skrining harus diperketat sebelum pelatihan dimulai. "Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan secara benar dan ketat oleh tim dokter. Jika proses skrining kesehatan tidak akurat, maka ketika peserta mengikuti latihan dengan beban fisik tertentu dapat menimbulkan risiko yang fatal," katanya.
Komisi I DPR meminta empat poin dievaluasi: mekanisme skrining kesehatan, intensitas pelatihan, pengawasan medis selama kegiatan, dan relevansi materi terhadap tugas manajerial koperasi. Rekomendasi konkretnya mengarah pada pembatasan porsi militer pada kegiatan dasar seperti baris-berbaris, santiaji, apel, dan senam pagi, dengan syarat peserta lolos pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu.
Respons Kemhan
Kementerian Pertahanan mempertahankan desain program yang berjalan. Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menyatakan Latsarmil bertujuan membekali peserta dengan disiplin, kepemimpinan, kerja sama tim, integritas, semangat pengabdian, dan etos kerja. Kemhan juga menegaskan seluruh peserta telah menjalani tes kesehatan sebelum pelatihan dimulai.
Keputusan atas desakan evaluasi DPR itu kini menentukan apakah jadwal pelatihan sisa gelombang dari total 35.476 peserta dilanjutkan seperti rencana atau ditahan menunggu hasil tinjauan.



