Pencopotan tiga pimpinan Badan Gizi Nasional yang berakhir di sel tahanan Kejaksaan Agung menjadi berita besar awal Juni ini. Tetapi keputusan yang barangkali paling menentukan nasib program Makan Bergizi Gratis justru diumumkan dengan suara pelan, nyaris tanpa seremoni: BGN berhenti mengejar target 82,9 juta penerima yang selama ini menjadi tolok ukur kesuksesan program andalan Presiden Prabowo Subianto. Pergantian orang di pucuk lembaga dijual sebagai penyembuh krisis. Yang lebih jujur soal akar masalah adalah pergeseran target itu sendiri.
Kepala BGN yang baru, Nanik S. Deyang, merangkum arah baru itu di hadapan Prabowo dengan kalimat yang terdengar seperti permohonan sekaligus pengakuan. "tahun 2026 ini mohon Bapak kami tidak mengejar kuantitas. Kami akan perbaiki kualitas," ujarnya, sebagaimana dikutip dari pemberitaan setelah konsolidasi pimpinan BGN. Pernyataan itu, jika ditarik logikanya, mengandung admisi yang tidak ringan: bahwa laju ekspansi yang dipaksakan selama ini ikut melahirkan rentetan keracunan yang menimpa puluhan ribu anak.
Pergantian yang menutupi perubahan sebenarnya
Perombakan terjadi cepat. Dadan Hindayana bersama dua wakilnya dicopot dan ditahan Kejagung atas dugaan korupsi pengadaan titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Nanik S. Deyang ditunjuk sebagai kepala baru, didampingi dua wakil, Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono. Pada 2 Juni Prabowo turun langsung meninjau dapur dan sekolah penerima, dan sehari berikutnya BGN menggelar konsolidasi besar di Sentul, Bogor, yang dihadiri 12.173 kepala SPPG beserta mitra. Rangkaian itu dikemas sebagai pembenahan kilat.
Di balik panggung pembenahan, paket kebijakan Nanik bergerak ke arah yang berlawanan dengan semangat awal MBG. BGN memberlakukan moratorium pendaftaran dan pembangunan dapur baru. Sasaran penerima difokuskan ulang ke ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah sembilan tahun, dengan prioritas daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Sekolah dari kalangan mampu mulai didepriotaskan. Dengan kata lain, program yang dirancang untuk membesar secepat mungkin kini sengaja diperlambat dan dipersempit.
Inilah titik yang membedakan babak terbaru dari sekadar kabar penahanan pejabat. Selama ini ukuran keberhasilan MBG bersandar pada angka: berapa juta penerima, berapa ribu dapur, berapa triliun terserap. Realisasi belanja program menembus Rp88,15 triliun hingga Mei 2026, dengan hampir 30 ribu SPPG beroperasi di seluruh Indonesia. Meninggalkan target 82,9 juta berarti melepas tolok ukur lama tanpa segera menggantinya dengan metrik baru yang sama jelasnya. Pertanyaannya bergeser dari "seberapa cepat tumbuh" menjadi "seberapa aman", dan pergeseran itu jauh lebih sulit diukur dari atas panggung.
Angka korban yang tak pernah satu suara
Beban yang menanti Nanik terbaca paling tajam pada catatan keselamatan, dan justru di sinilah persoalan tata kelola program tampak telanjang: sampai hari ini Indonesia tidak punya satu angka korban yang disepakati. Penghitungan justru bertumpu pada dua sumber utama, dan keduanya tak pernah benar-benar bertemu di satu basis data. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menjadi rujukan yang paling sering dikutip. Angkanya yang direlai Kompas mencatat 33.626 pelajar menjadi korban di 31 provinsi hingga awal April — terdiri atas 28.103 korban sepanjang 2025 ditambah 5.523 korban pada 1 Januari hingga 7 April 2026 — sementara dalam pembaruan yang lebih akhir JPPI menyebut 37.270 korban sejak Januari 2025 sampai Mei 2026, dengan kasus terbanyak di Jawa Tengah. Di jalur terpisah, Kementerian Kesehatan menghitung 445 kejadian dugaan keracunan dengan 37.673 korban hingga 10 Mei 2026.
Selisih itu sebagian wajar: lonjakan dari 33.626 ke 37.270 sebagian besar adalah JPPI memperbarui hitungannya sendiri seiring batas waktu yang lebih panjang, bukan dua lembaga yang berselisih. Yang justru menohok adalah titik temunya — angka JPPI yang lebih akhir dan hitungan Kemenkes sama-sama mendekati 37 ribu, padahal berasal dari dua jalur pencatatan yang berdiri sendiri. Disandingkan, keduanya menunjukkan hal yang sama: korban dugaan keracunan MBG bukan ratusan, melainkan puluhan ribu, dan trennya menanjak dari tahun pertama ke tahun kedua program. Ketiadaan rujukan tunggal bukan sekadar persoalan administrasi. Tanpa satu basis data yang diakui bersama, klaim "kualitas membaik" yang nanti diucapkan pejabat sulit diuji publik, karena tidak ada garis dasar yang disepakati untuk mengukurnya.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini menunjuk sumber persoalan tanpa berputar. "Banyaknya kasus keracunan menunjukkan lemahnya pengawasan di lapangan," katanya. Diagnosis itu menjelaskan mengapa moratorium dapur baru bisa masuk akal sebagai langkah jeda: menghentikan pertumbuhan titik pelayanan memberi ruang untuk membenahi standar sanitasi dan prosedur yang selama ini tertinggal oleh kecepatan ekspansi.
Bayang-bayang politik dan tudingan konflik kepentingan
Persoalan kedua yang membayangi reformasi ini bersifat politis. Penunjukan Nanik S. Deyang menuai keberatan keras karena rekam jejaknya sebagai pendukung Prabowo pada pemilihan presiden. Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai pergantian semacam itu tidak menyentuh inti masalah. "Mencopot Kepala BGN, terlebih lagi menggantinya dengan orang yang merupakan pendukung Prabowo dalam pilpres tidak akan menyelesaikan masalah MBG," ujar Kepala Divisi Advokasi ICW Egi Primayogha.
ICW melangkah lebih jauh dari sekadar mengkritik figur. Lembaga itu membaca penunjukan tersebut sebagai upaya mengamankan kepentingan politik lewat kebijakan MBG, dan mendesak agar program dihentikan serta BGN dibubarkan. Tuntutan itu berada di ujung paling keras dari spektrum kritik, dan belum tentu mewakili sikap mayoritas pemangku kepentingan. Namun kekhawatiran dasarnya layak ditimbang: apakah pimpinan yang berafiliasi dengan kekuasaan dapat memimpin pembersihan internal, termasuk membiarkan penyidikan korupsi pendahulunya berjalan tanpa rem, masih menjadi perdebatan terbuka dan belum dapat dipastikan arahnya.
Di sisi lain, pemerintah punya argumen tandingan yang konkret. Program ini menyangga puluhan juta pelajar, ibu hamil, dan balita, serta ribuan UMKM dan mitra dapur yang menggantungkan pendapatan harian pada operasional MBG. Membubarkan lembaga di tengah krisis berisiko menambah korban dari arah lain, yaitu hilangnya pasokan gizi dan pendapatan mendadak. Ketegangan inilah yang sebenarnya dihadapi Nanik: menertibkan program tanpa merobohkannya.
Kabar penghentian yang ternyata hoaks
Di tengah simpang siur itu, beredar kabar bahwa MBG dihentikan total, yang sempat menjadi salah satu topik pencarian terpanas di Indonesia. BGN membantahnya. "Kami menegaskan bahwa informasi yang menyebut BGN memerintahkan penghentian operasional dapur MBG adalah tidak benar," kata Nanik. Versi resminya, layanan tetap berjalan dan bahkan diperluas ke kelompok prioritas, sementara sejumlah dapur bermasalah dihentikan sementara untuk evaluasi.
Jarak antara rumor "program mati" dan kebijakan sebenarnya, yaitu memperlambat dan menertibkan, justru memperlihatkan betapa rapuhnya kepercayaan publik terhadap MBG saat ini. Ketika sebuah program dipercaya, kabar penghentian tidak akan langsung viral. Bahwa rumor itu sempat dipercaya luas menandakan publik sudah cukup ragu untuk membayangkan yang terburuk.
Yang menentukan apakah ini reformasi atau sekadar wajah baru
Ujian sesungguhnya bukan pada seremoni pergantian, melainkan pada apa yang terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Tolok ukur paling jujur adalah tren angka keracunan setelah Juni 2026: jika insiden benar-benar menurun, klaim "kualitas di atas kuantitas" terbukti lebih dari retorika. Sebaliknya, jika moratorium dapur berhenti pada slogan tanpa standar sanitasi dan prosedur operasional yang terukur, pergeseran target hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
Dua hal lain layak dipantau dengan sama ketat. Pertama, kelanjutan proses hukum Dadan Hindayana dan kolega di Kejagung, termasuk apakah penyidikan meluas ke dugaan penyimpangan lain seperti yang didesak ICW, yang akan menjadi ujian independensi pimpinan baru. Kedua, dampak fiskal dari meninggalkan target 82,9 juta penerima terhadap anggaran, nasib mitra UMKM dapur, dan janji politik pemerintah yang sejak awal dibangun di atas angka besar itu.
Mengganti satu nama di pucuk lembaga adalah langkah yang mudah diumumkan dan cepat menenangkan tekanan publik. Membenahi pengawasan keamanan pangan di hampir 30 ribu dapur, menyatukan data korban yang berserak, dan menjaga program sebesar ini dari tarikan kepentingan politik adalah pekerjaan yang jauh lebih sunyi dan lambat. Pivot diam-diam dari kuantitas ke kualitas memberi BGN alasan untuk memperlambat diri. Apakah jeda itu dipakai untuk benar-benar memperbaiki, atau hanya untuk menunggu sorotan reda, baru akan terjawab oleh angka keracunan beberapa bulan mendatang, bukan oleh pidato di Sentul.




Komentar