Kalasuara - Dari sepuluh kategori yang diukur studi Initial Quality Study (IQS) JD Power 2026, satu saja yang mencatat angka lebih buruk dari tahun lalu yaitu sistem infotainment mobil. Keluhan terhadap hiburan kabin di segmen pasar massal naik ke 44,4 masalah per 100 kendaraan (PP100) dari rata-rata industri 42,6 PP100 pada 2025, tepat saat kualitas keseluruhan industri meraih perbaikan tahunan terbaiknya sejak 1997. PP100 adalah ukuran keluhan per 100 kendaraan yang disurvei: semakin rendah angkanya, semakin sedikit masalah yang dilaporkan pemilik.

Studi ini dirilis akhir Juni, menghimpun respons 78.514 pemilik dan penyewa kendaraan model 2026 setelah 90 hari pemakaian. Rata-rata masalah industri turun ke 175 PP100 dari 192 PP100 tahun sebelumnya. Hampir semua kategori membaik: bodi, mesin, transmisi, dan sistem bantuan pengemudi semuanya mencatat penurunan keluhan. Infotainment bergerak ke arah yang berbeda.

Mengapa sistem infotainment justru makin bermasalah?

Penyumbang terbesar penurunan skor adalah masalah konektivitas Apple CarPlay dan Android Auto: keduanya sendiri menambah 1,4 PP100 ke angka industri. Di segmen premium, infotainment tercatat 38,3 PP100.

Akar masalahnya ada pada kecepatan pembaruan. Apple dan Google memperbarui sistem operasinya berulang kali dalam setahun, jauh lebih cepat dari siklus pengembangan kendaraan yang biasanya empat hingga tujuh tahun. Setiap kali iOS atau Android meluncurkan versi baru, produsen mobil harus memastikan kompatibilitas sistem infotainment mereka. Kegagalan di satu titik langsung terasa sebagai koneksi putus-nyambung di tangan pemilik.

Ini menempatkan produsen dalam posisi yang tidak mudah: mereka tidak mengendalikan jadwal pembaruan Apple maupun Google, tapi merekalah yang menanggung keluhan ketika sambungan ponsel bermasalah.

Frank Hanley, Senior Director of Auto Benchmarking JD Power, menyebut kesederhanaan sebagai variabel paling menentukan. "As more technology is introduced into vehicles, keeping the experience simple matters more than ever. The biggest gains in quality come from features that are easy to use — simple controls, less-intrusive driver assistance and software that works the way customers expect. When technology becomes too complicated, the likelihood of customers experiencing a problem rises considerably."

Ironisnya, CarPlay dan Android Auto diadopsi luas produsen justru untuk menyederhanakan antarmuka kabin mereka. Alih-alih membangun sistem operasi sendiri, mereka memercayakan tampilan layar kepada dua raksasa teknologi itu. Hasilnya: ketika integrasi bermasalah, produsen mobil mewarisi keluhan yang asal usulnya ada di luar kendali mereka.

Layar kabin dan risiko di jalan

Data JD Power 2026 juga membuka gambar yang lebih tajam soal keselamatan berkendara. Dari seluruh keluhan terkait distraksi pengemudi, 46 persen berpangkal pada infotainment dan layar sentuh, sementara 18 persen berasal dari peringatan sistem bantuan pengemudi. Angka itu menempatkan layar kabin sebagai sumber distraksi nomor satu di kendaraan baru: 2,5 kali lebih banyak keluhan dibanding fitur keselamatan aktif.

Di Indonesia, konteks ini lebih pelik. Tren menonton video atau siaran langsung sambil menyetir sudah mulai memakan korban di jalan raya, dan layar kabin yang menuntut interaksi visual menambah titik risiko baru bagi pengemudi.

Regulasi global mulai merespons. Mulai Januari 2026, Euro NCAP memperketat protokol penilaian bintang lima: mobil yang menaruh fungsi kritis seperti lampu sein, hazard, klakson, wiper, dan panggilan darurat sepenuhnya di layar sentuh akan kesulitan meraih peringkat tertinggi. Kontrol yang cepat dibutuhkan wajib berbentuk tombol fisik dengan umpan balik nyata. Aturan ini membalik tren desain minimalis yang bertahun-tahun mendorong produsen memindahkan hampir semua kontrol ke kaca.

Tantangan bagi pasar Indonesia

Gelombang kendaraan listrik asal China yang masuk ke pasar Indonesia justru menggunakan layar besar sebagai daya jual utama, seraya meminimalkan tombol fisik demi tampilan yang bersih. Ketika data dari 78.514 pemilik kendaraan baru menunjukkan bahwa layar berbasis perangkat lunak adalah titik gesek nomor satu, proposisi "semakin besar layarnya semakin canggih" menanggung beban pembuktian yang berbeda di ruang pamer.

Sejauh ini belum ada regulasi keselamatan setara Euro NCAP yang secara khusus menilai distraksi antarmuka pengemudi di pasar Indonesia. Tanpa standar seperti itu, pembeli kendaraan menanggung sendiri risiko memilih antarmuka yang terlihat menarik di brosur tetapi bermasalah dalam pemakaian harian.

Skor merek dalam studi memberikan petunjuk tentang arah yang berhasil. Porsche meraih kualitas tertinggi sekaligus memimpin segmen premium di 138 PP100. Ford, yang baru saja merekrut kembali 350 insinyur setelah teknologi AI dinilai tidak cukup mengontrol kualitas produksinya, memimpin segmen pasar massal di 152 PP100. Genesis menempati posisi kedua segmen premium di 151 PP100. Ketiganya meraih posisi atas dengan pendekatan yang berbeda, tapi satu kesamaan yang dicatat Hanley berlaku untuk semuanya: teknologi yang bekerja sesuai harapan pemilik menghasilkan skor lebih baik dari teknologi yang terlihat lebih canggih di atas kertas.