Ducati resmi mengakhiri kontrak dengan Francesco "Pecco" Bagnaia, Rabu (24/6/2026). Pembalap Italia berusia 29 tahun itu meninggalkan tim pabrikan di akhir musim 2026, menutup kemitraan delapan tahun yang menghasilkan dua gelar juara dunia dan 31 kemenangan balapan. Pedro Acosta, yang saat ini membalap untuk KTM, disiapkan mengisi kursi Bagnaia dan mendampingi Marc Marquez di Ducati pabrikan mulai 2027.
Mengapa Bagnaia meninggalkan Ducati?
Marquez menggeser Bagnaia dari puncak hierarki tim dalam satu musim. Pada 2025, Marquez yang baru dipromosikan Ducati ke tim pabrikan langsung merebut gelar dunia ketujuhnya dengan keunggulan 257 poin atas Bagnaia, yang finis di posisi kelima. Celah sebesar itu, antara dua pembalap di garasi yang sama, cukup bagi Ducati untuk memutuskan arah baru.
Gigi Dall'Igna, General Manager Ducati Corse, tidak membingkai momen ini sebagai kegagalan. "In relationships, it is not always easy to recognise and understand when a cycle has come to an end and change becomes necessary," katanya. Dari pernyataan itu, Ducati memosisikan perpisahan ini sebagai pergantian fase.
Situasinya punya lapisan ironi tersendiri. Dall'Igna pernah menyebut Ducati mencari Bagnaia sejak usia sangat muda justru untuk membangun proyek di sekitarnya. Proyek itu berbuah nyata: gelar 2022 memutus puasa panjang Ducati di kelas premier. CEO Claudio Domenicali secara khusus menandai momen itu sebagai "culmination of Ducati's restructuring process, which allowed us to return to the forefront after an undeniably difficult period." Pada 2023 Bagnaia merebut gelar kedua. Kemudian datang Marquez, dan proyek yang sama menggeser arsitek utamanya.
Beberapa hari sebelum pengumuman resmi Ducati, Bagnaia sudah memberi sinyal. "Yeah, I just decided. In a few days, the announcements from all the teams will come in. So wait for mine too," katanya kepada wartawan, tanpa menyebut nama tim tujuannya.
Satu keputusan, empat pembalap bergerak
Kepergian Bagnaia menggerakkan setidaknya empat nama sekaligus. Acosta meninggalkan KTM dan masuk ke Ducati pabrikan. Bagnaia sendiri, menurut laporan kuat dari The Race, akan bergabung dengan Aprilia mulai 2027 dan berpasangan dengan Marco Bezzecchi. Bezzecchi dilaporkan tidak banyak mempersoalkan komposisi rekan setim dan menyerahkan keputusan itu kepada CEO Aprilia Racing Massimo Rivola.
Jorge Martin, juara dunia 2024 yang kini membalap untuk Aprilia, disebut-sebut akan berpindah ke Yamaha, membuka ruang bagi Bagnaia di garasi Aprilia. Per 24 Juni, baik Aprilia maupun Yamaha belum mengeluarkan konfirmasi resmi untuk kedua perpindahan itu.
Delapan musim dan apa yang masih tersisa
Bagnaia bergabung dengan ekosistem Ducati pada 2019 lewat tim satelit Pramac sebelum naik ke tim pabrikan pada 2021. Dalam enam musim di posisi itu, ia mencetak 31 kemenangan, 63 podium, dan 28 pole position di atas motor yang ikut ia sempurnakan bersama para insinyur Borgo Panigale.
Masih ada 13 grand prix tersisa di musim 2026. Bagnaia akan terus membalap untuk Ducati selama periode itu, dalam situasi yang tidak lazim bagi seorang pembalap papan atas: sudah diketahui publik akan hengkang, tetapi belum benar-benar pergi. Bagaimana ia dan Marquez mengelola sisa musim di garasi yang sama menjadi subplot tersendiri sebelum grid 2027 terbentuk penuh.
Bagi penggemar MotoGP di Indonesia, tuan rumah GP Mandalika yang tiap tahun memadati tribun untuk menyaksikan duel Bagnaia–Marquez, kepindahan ini menandai perubahan komposisi terbesar dalam beberapa musim terakhir. Antusiasme domestik terhadap kelas premier terus tumbuh, termasuk melalui kemunculan Veda Ega Pratama yang debut di Moto3 di kancah internasional.



